Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/11/05/12531024/Norwegia.Minati.Investasi.Minyak.dan.Gas

VIENTIANE, KOMPAS.com — Di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Eropa ke-19 di Vientiane, Laos, Indonesia menggelar pertemuan bilateral dengan Norwegia. Pertemuan membahas ketertarikan Norwegia untuk berinvestasi ke Indonesia, khususnya di bidang minyak dan gas.

Pertemuan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama sejumlah menteri, seperti Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Menteri Pendidikan M Nuh. Intinya, Norwegia mau investasi khususnya di bidang minyak dan gas.

“Mereka mau investasi 1 miliar dollar AS,” kata Gita Wirjawan. Selain itu, juga soal kerja sama perubahan iklim. Ketiga soal milenium development goals.

“Jangan sampai mengabaikan MDGs. Komponen MDGs harus berkesinambungan dan Presiden sudah menyetujui,” katanya.

Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Suryo Bambang Sulisto, Norwegia adalah negara kaya yang sebagian besar kebutuhan dalam negeri dipenuhi dari impor. “Karenanya, kesempatan Indonesia untuk memasok kebutuhan mereka sebenarnya cukup besar,” ujarnya.

Advertisements

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/home/56-kampung-iklim-akan-diapresiasi/26447

[JAKARTA] Dalam upaya memitigasi dan mengadaptasi perubahan iklim, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) November 2012 akan mengapresiasi 56 kampung iklim dari 1.000 kampung di Indonesia. Sejumlah kampung itu dinilai sukses secara mandiri merespon masalah lingkungan di daerahnya.

Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim KLH Arief Yuwono mengatakan banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat setempat terkait isu perubahan iklim. Kampung iklim itu awalnya tidak mengetahui isu perubahan iklim, mereka hanya merespon lingkungan.

“Namun dalam kampung iklim, mereka mengelola dengan baik sampah dengan prinsip 3R, mengelola limbah bahkan bisa menghitung gas rumah kaca dari tutupan lahannya,” katanya di sela sosialisasi forum ilmiah perubahan iklim atau Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di kementerian riset dan teknologi (kemristek), Jakarta, Jumat (2/11).

Arief berharap aktivitas kampung iklim bisa menular ke kampung-kampung lainnya atau ke wilayah lain yang lingkupnya lebih besar seperti desa bahkan kota.

Deputi Pendayagunaan Iptek Kemristek Idwan Suhardi menyatakan sebagai bagian dari upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, sejumlah kegiatan riset telah dan sedang dilakukan dan pengembangan teknologi hijau.

Mewakili sambutan Menteri Riset dan Teknologi Gusti M Hatta, ia menambahkan beberapa kegiatan terkait produk iptek ramah lingkungan antara lain mobil listrik karya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, bibit unggul tahan hama dan iklim Badan Tenaga Nuklir Nasional.

“Peta-peta geospasial tematik dari Badan Informasi Geospasial juga dapat digunakan dalam perhitungan karbon,” ucapnya.

Untuk itulah Juni 2012 KLH, Kemristek, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika membentuk IPCC Indonesia. Forum ini menjadi wadah komunikasi dan informasi untuk mensinergikan para ilmuwan dan praktisi terkait perubahan iklim. [R-15]

Sumber: http://www.beritasatu.com/sains/80671-pengembangan-kota-hijau-untuk-mengantisipasi-perubahan-iklim.html

Kota hijau harus menyediakan tanah 5000 m2 di tengah kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota dengan konsep pembangunan “totally green park”. 

Pakar tata kota Nirwono Joga mengatakan, pengembangan kota hijau merupakan salah satu upaya dalam mengantisipasi, adaptasi, dan mitigasi perubahan iklim.

“Kota hijau merupakan tindakan antisipasi mitigasi terhadap perubahan iklim, karena 70 persen kota-kota di Indonesia di kawasan pesisir rentan terhadap dampak “climate change”,” kata Nirwono Joga seusai konferensi pers Green City for a Better Life, di Jakarta, Rabu (31/10).

Menurut dia, pembangunan kota hijau harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terus berupaya mengembangkan teori urban yang baru demi terciptanya kota hijau.

“Ada tiga prinsip dalam pembangunan kota hijau yaitu pembangunan berkelanjutan yang mendorong keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujar dia.

Kedua, kata dia, pembangunan kota hijau harus mandiri. Kota hijau harus mampu mandiri secara finansial, mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Ketiga, yaitu konsep beragam. Ada delapan atribut kota hijau yang meliputi perencanaan dan perancangan kota ramah lingkungan (green planning and design), ruang terbuka hijau (green open space), konsumsi energi yang efisien (green energy).

“Pengelolaan air (green water), pengelolaan limbah dengan prinsip 3R (green waste), bangunan hemat energi (green building), penerapan sistem transportasi yang berkelanjutan (green transportation), dan peningkatan peran masyarakat sebagai komunitas hijau (green community),” ujar dia.

Ia mengatakan kedelapan atribut kota hijau disesuaikan dengan potensi kemampuan 60 kota peserta kota hijau karena tiap daerah memiliki potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

“Misalnya ada beberapa kota seperti Bogor, Sukoharjo, Solo, Batam, dan Bukittingi yang ingin melakukan penerapan sistem transportasi yang berkelanjutan (green transportation),” ujar dia.

Ia menambahkan peserta kota hijau harus menyediakan tanah 5000 m2 di tengah kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota dengan konsep pembangunan “totally green park”.

“Kenapa tiap kota minimal 5000 m2 karena secara teknis dari segi ekologis, suatu lahan 5 ribu meter dari suatu kawasan akan mempunyai nilai ekologis seperti daya serap airnya dan mendatangkan satwa liar, selain nilai ekonomis dan sosial,” kata dia.

Menurut dia, dengan peningkatan peran masyarakat sebagai komunitas hijau dapat mewujudkan kota hijau yaitu ruang yang aman, nyaman, serta produktif.

Sumber: http://sains.kompas.com/read/2012/10/31/1627007/Bukti.Kaitan.Badai.Sandy.dengan.Perubahan.Iklim

NOAACitra badai Sandy seperti diambil satelit GOES-13 milik NOAA pada Senin (29/10/2012).

WASHINGTON, KOMPAS.com – Kaitan antara Badai Sandy dengan perubahan iklim memang tidak mudah disimpulkan. Namun, beberapa ilmuwan percaya bahwa perubahan iklim memengaruhi faktor-faktor yang membantu melahirkan badai, membuat Badai Sandy lebih kuat.
“Bahan-bahan badai tampaknya sedikit ‘dimasak’ oleh perubahan iklim, namun badai secara keseluruhan sulit dikaitkan dengan perubahan iklim,” ungkap pakar iklim dari University of Victoria di Kanada, Andrew Weaver.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa badai Sandy dipengaruhi perubahan iklim. Michael Mann, pakar iklim dari Pennsylvania State University mengatakan, salah satu faktornya adalah air laut. Mann menuturkan, ketinggian muka air laut di dekat New York naik hampir 30 cm dalam 100 tahun terakhir.

Masih terkait dengan air laut, Katharine Hayhoe, pakar iklim dari Texas Technology University menuturkan bahwa temperatur Samudera Atlantik naik 2 derajat dibandingkan 100 tahun lalu. Kenaikan suhu memicu terjadinya lebih banyak badai,.

Faktor lain adalah bahwa badai Sandy bergerak ke utara dari Karibia menuju Irlandia melewati wilayah yang lebih hangat dari biasanya. Jeff Masters dari Weather Underground mengungkapkan, hal tersebut turut memperkuat badai Sandy.

Faktor perubahan iklim juga bisa dilihat pada semakin banyaknya badai yang terjadi menjelang akhir bahkan sesudah musimnya. Studi pada tahun 2008 menunjukkan bahwa musim badai Atlantik dimulai lebih awal dan berakhir lebih lama, walau tak dinyatakan secara eksplisit kaitannya dengan perubahan iklim.

Jumlah badai yang terjadi pun semakin banyak. Normalnya, di Atlantik terbentuk 11 badai. Namun, dalam dua tahun ini saja, sudah ada masing-masing 19 dan 18 badai. Hingga 2 bulan sebelum tahun 2012 berakhir, sudah ada 18 badai termasuk Sandy.

Saat hendak menerjang wilayah Amerika Serikat, badai Sandy diketahui berbelok ke kiri menuju wilayah New Jersey. Biasanya, badai bergerak terus ke utara. Berdasarkan keterangan National Hurricane Center di AS, penyebab beloknya badai adalah adanya pusat tekanan rendah di Kanada.

Jennifer Francis dari Rutgers University, pakar yang mempelajari pemanasan Arktik pada cuaca, mengatakan, pemanasan di Arktik mungkin memperbesar dan memperlama pusat tekanan rendah, walau tak yakin bahwa pemanasan itu juga berdampak pada badai Sandy.

Walau ada bukti kaitan badai Sandy dan perubahan iklim, Gerald North dari Texas A&M University mengatakan, “Kebanyakan adalah faktor alam. 80-90 persen faktor alam. Hal macam ini memang terjadi, seperti kekeringan. Ini sesuatu yang alami.”

Michael Bloomberg, Walikota New York mengatakan, “Yang jelas adalah bahwa badai yang kita alami tahun lalu dan saat ini di negara ini dan seluruh dunia lebih parah dari sebelumnya. apakah ini pemanasan global atau apapun, kita harus memperhatikan isu itu.”

Gubernur New York, Andrew Cuomo, menyebutkan bencana yang terjadi sebagai realitas baru. “Siapa pun yang mengatakan tak ada perubahan dramatis pada pola cuaca, saya pikir dia sedang mengingkari realitas. Saya mengatakan pada presiden, ada 100 banjir dalam 2 tahun.”

Adanya banjir besar yang menghancurkan New York sebenarnya telah diramalkan. Pakar iklim Michael Oppenheimer dalam publikasinya tahun 2012 ini mengatakan bahwa banjir besar akan terjadi setiap tiga hingga 20 tahun. Perubahan iklim yang meningkatkan ketinggian muka air laut dan merubah pola badai dituding sebagai penyebabnya. New York memang rentan bencana.

 

Sumber: http://sains.kompas.com/read/2012/10/30/14024699/Badai.Super.Sandy.dan.Perubahan.Iklim

TOPSHOTS / AFP PHOTO/Stan HONDAGelombang besar menghantam sebuah dermaga di Atlantic City, New Jersey, Senin (29/10/2012), menjelang kedatangan Badai Sandy. Gelombang yang dipicu badai telah mencapai daratan dan air pun membanjiri wilayah permukiman di sekitarnya. Pemerintah di wilayah-wilayah yang menjadi jalur badai memperingatkan warganya bahwa bahaya badai tersebut “tidak bisa diperkirakan” dan memerintahkan warga masing-masing, dari wilayah New England sampai North Carolina, untuk mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan pemerintah.

NEW JERSEY, KOMPAS.com — Badai Sandy yang kini menghantam wilayah Amerika Serikat dikatakan tak biasa dan menjadi badai terbesar di AS dalam 100 tahun. Besarnya badai membuat beberapa pihak berpikir bahwa besarnya badai Sandy adalah dampak dari perubahan iklim. Benarkah?

David Robinson dari Rutgers University seperti diberitakan Livescience, Senin (29/10/2012), mengatakan, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa badai Sandy yang mulai terbentuk 22 Oktober 2012 di Karibia itu adalah dampak perubahan iklim.

“Anda tak bisa mengambil satu peristiwa seperti ini lalu menghubungkannya dengan fenomena lain, kecuali memang ada kondisi-kondisi yang mengarah ke sana,” kata Robinson yang juga pakar iklim di pemerintahan New Jersey.

Namun, Kevin Trenberth dari National Center for Atmospheric Research mengungkapkan, menghubungkan antara besarnya badai Sandy dan perubahan iklim cukup beralasan. Perubahan kondisi lingkungan memang memicu terbentuknya lebih banyak badai besar.

Siklon tropis atau badai terbentuk di wilayah tropis akibat panas di dekat permukaan laut. Diketahui, suhu laut meningkat 0,5 derajat celsius sejak seabad terakhir. Kenaikan suhu air laut meningkatkan kemungkinan pembentukan badai tropis.

Publikasi pada bulan September 2012 juga menunjukkan bahwa badai tropis yang terbentuk saat ini bergerak lebih cepat dari badai tropis 25 tahun lalu. Badai dapat mencapai kecepatan 208 km per jam, 9 jam lebih awal dari biasanya.

Trenberth mengatakan, dengan suhu air laut yang lebih hangat, kelembaban udara di lautan 4 persen lebih tinggi. Hal ini juga memicu terbentuknya badai tropis lebih banyak dari biasanya.

“Secara umum, kami memperkirakan bahwa hal itu meningkatkan risiko, bahwa intensitas badai dapat lebih besar, demikian pula curah hujan akibat dampak badai 5-10 persen lebih besar dari biasanya,” kata Trenberth.

Trenberth pun mengatakan, ada tanda bahwa badai dengan kategori 3 atau di atasnya meningkat makin sering. Meski demikian, hal tersebut bisa terjadi karena variasi dari tahun ke tahun akibat El Nino.

Robinson mengungkapkan, belum bisa disimpulkan apakah badai Sandy terkait perubahan iklim. Namun, bahwa perubahan iklim dapat berkontribusi pada semakin besarnya dampak bencana tak dapat dielakkan.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/10/29/134012/Generasi-Muda-Harus-Aktif-Tanggulangi-Perubahan-Iklim

JAKARTA, suaramerdeka.com – Perubahan iklim hanyalah salah satu dari berbagai isu global yang dihadapi generasi muda saat ini. Dampak dan cakupan isu-isu tersebut begitu luas sehingga tidak ada satu negarapun yang dapat menanggulanginya sendiri.

“Karenanya Indonesia mengajak semua pemuda untuk bersama-sama berperan aktif dalam menanggulangi isu ini  dalam kapasitas masing-masing individu”. Demikian sambutan Dubes RI Beijing, Imron Cotan yang dibacakan di hadapan panelis dan peserta ‘Dialogue with Ambassadors’, di Conference Hall, Peking University, RRT (28/10).

Lebih lanjut Dubes Imron menyampaikan bahwa pemerintah dan masyarakat Indonesia sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung upaya penanggulangan dampak perubahan iklim serta berperan dalam global citizenship.

“Dalam pertemuan G-20 pada tahun dua tahun lalu, misalnya, Presiden RI telah memberikan komitmen untuk mengurangi emisi CO2 (karbon dioksida) hingga 26 persen secara sukarela pada tahun 2020 dan hingga 41 persen apabila negara-negara lainnya memberikan komitmen serupa”. ujarnya.

Kebijakan ini juga didukung dengan berbagai program kerja, penelitian dan kerjasama internasional dalam program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dunia, dijelaskan oleh Dubes RI. Senada dengan yang disampaikan, Duta Besar Maldives juga hadir menyatakan bahwa climate change merupakan salah satu masalah yang menjadi perhatian utama negaranya.

“Sebagai negara kepulauan yang hidup dari industri pariwisata, masa depan masyarakat Maldives sangat bergantung pada mitigasi perubahan iklim dan kesadaran masyarakat dunia akan pelestarian alam”. katanya.

Kegiatan diskusi antara para Duta Besar negara sahabat dengan mahasiswa Peking University turut dihadiri oleh Duta Besar Denmark Mr. Friis Peterson, Duta Besar Burundi Mr. Pascal Gasunzu, Duta Besar Maldives Mr. Mohamed Rasheed, serta wakil Kedutaan Besar Islandia dan Turki.

Selain diisi dengan paparan oleh Dubes dari beberapa negara sahabat, pada kesempatan festival budaya tersebut, Tari Barong yang ditampilkan oleh para mahasiswa Indonesia di panggung utama mendapatkan sambutan yang meriah.

Puluhan mahasiswa Indonesia yang belajar di beberapa universitas di kota Beijing juga mengisi booth Indonesia dengan tema pulau Bali. Selain menampilkan baju dan hiasan Bali, booth tersebut juga diisi dengan Ondel-ondel khas Betawi dan alat musik Angklung, yang semuanya mendapatkan sambutan yang positif.

( Rifki , RED / CN34 / JBSM )

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/25/mcf8xz-indonesia-hadapi-teror-perubahan-iklim

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON – Saat ini Indonesia sedang menghadapi teror perubahan iklim. “Indonesia adalah negara di garis depan,” kata pengusaha Rachmat Gobel, Selasa (23/10) waktu AS atau Rabu (24/10) waktu Indonesia.
Rachmat, yang merupakan pemilik Panasonic Gobel Indonesia, juga dikenal sebagai pengusaha yang mengkampanyekan ekonomi hijau (green economy). Hal itu ia buktikan dengan memimpin organisai energi terbarukan dan mempromosikan produk industri yang ramah lingkungan. Paparan Gobel tersebut disampaikan dalam sebuah diskusi di Center of Strategic for International Studies (CSIS) di Wasington DC, AS. Lembaga ini memiliki nama yang sama dengan lembaga di Indonesia, tapi keduanya tak memiliki hubungan struktural.

Gobel menyebutkan, suhu udara di Indonesia meningkat 0,3 derajat celcius sejak 1990. Kecenderungan ini diperkirakan akan terus terjadi. Pada sisi lain jumlah curah hujan meningkat 2-3 persen. Padahal jumlah hari hujan dalam setahun justru mengalami penurunan tiap tahunnya. “Kombinasi tak alami ini akan membuat wilayah perdesaan rawan terhadap banjir dan longsor,” katanya. Ia juga mengemukakan terjadinya kenaikan permukaan air laut merupakan bahaya yang dihadapi Indonesia saat ini. “Sekitar 40 juta penduduk Indonesia memiliki rumah yang berjarak 10 meter dari laut,” katanya. Dengan demikian, kenaikan permukaan laut akan mengancam kehidupan mereka.

Namun Gobel menyatakan, Indonesia dikaruniai keanekaragaman hayati yang luar biasa. Sekitar 70 persen wilayahnya berupa hutan. Di sana hidup beragam mamalia, reptil, amfibi, burung, ikan, dan lebih dari 38 ribu spesies. Kenyataan ini membuat Indonesia berada di garis depan dalam kebijakan yang pro lingkungan hidup, terutama sejak menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada 2007. Indonesia juga sudah meratifikasi Protokol Kyoto, kemauan untuk mengurangi efek rumah kaca. Dalam hal kelapa sawit, Indonesia juga berinisiatif untuk mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan. “Inilah tujuan kami tentang ekonomi hijau,” katanya.

Indonesia juga membangun ekonomi kelautan. Sebagai negara kepulauan, secara alami Indonesia akan berperan dalam menghadapi perubahan iklim. Saat ini, katanya, jumlah emisi gas rumah kaca adalah akibat kebakaran dan deforestasi dan bukan karena industri. Diperkirakan tumbuh menjadi 3,3 miliar ton pada 2030. Hampir 80 persen akibat deforestasi dan pembukaan lahan dengan cara dibakar. Namun pada 2011, Indonesia telah memiliki Rencana Aksi Nasional tentang pengurangan emisi gas rumah kaca. Dalam rencana itu pengurangan emisi harus mencapai 672 juta ton pada 2020. Namun bisa menjadi satu miliar ton jika didukung bangsa-bangsa lain.

Sumber: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=265040:ri-berperan-dalam-mitigasi-iklim-global&catid=59:kriminal-a-hukum&Itemid=91

JAKARTA – Sekretaris Kemenko Kesra Indroyono Soesilo mengatakan Indonesia dengan hutan dan lautan yang luas berperan sentral dalam adaptasi serta mitigasi perubahan iklim global.

“Indonesia berperan sentral namun di sisi lain wilayah Nusantara juga harus menanggung akibat meningkatnya temperatur muka laut,” kata Indroyono Soesilo di Jakarta, tadi malam.

Dia menjelaskan Indonesia harus menanggung meningkatnya temperatur muka laut, naiknya tinggi muka laut yang berakibat tenggelamnya beberapa pulau serta harus menghadapi kondisi variabilitas iklim seperti datangnya El Nino, atau kemarau panjang, serta La Nina, atau musim hujan yang berkepanjangan.

“Tidak ada jalan lain, selain negara-negara di dunia harus bekerja sama melalui adaptasi perubahan iklim, mitigasi perubahan iklim, peningkatan kegiatan pemantauan iklim dan pertukaran ilmu pengetahuan antara negara,” katanya.

Indroyono menegaskan bahwa walaupun Indonesia harus menghadapi dampak perubahan iklim global ini di negara sendiri, namun Indonesia juga tetap ingin berkontribusi demi kelestarian bumi.

“Diantaranya dengan menyodorkan Program REDD+ untuk pelestarian hutan tropis serta merintis Coral Triangle Initiative dalam rangka penyelamatan 75.000 kilometer persegi terumbu karang di 6 Negara,” katanya.

Selain itu Indonesia secara sukarela akan menurunkan emisi CO2 sebesar 26 persen dengan kekuatan sendiri, atau sebesar 41persen dengan dukungan Internasional pada tahun 2020.

Sumber: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1919032/menkeu-ri-dukung-green-economy

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah telah berupaya mendukung perkembangan ekonomi hijau (green economy). Salah satunya dengan menerapkan insentif fiskal bagi produk ramah lingkungan.

“Kita sudah mengarah ke green economy. Kita akan dukung terkait low cost green car. Kita mendukung untuk invest biotermal juga, sehingga nanti kedepan lingkungan terjaga,” ujarMenteri Keuangan Agus Martowardojodi Ritz Carlton Jakarta, Selasa (23/10/2012).

Selain itu, lanjutnya, dukungan pemerintah Indonesia terhadap ekonomi hijau juga diimplementasikan melalui pembentukan direktorat baru di bawah Kementerian Keuangan. Direktorat ini secara khusus menangani masalah perubahan iklim yang mempengaruhi perkembangan ekonomi.

“Saya garis bawahi pro envirenment, jadi dari awal strategi Indonesia adalah pro growth, pro poor, pro job, dan pro enviorement. Nah menkeu mensikapi ini,” ujarnya. [ast]

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2012/10/22/144193/Indonesia-Berperan-Besar-Atasi-Perubahan-Iklim-Global-

JAKARTA – Indonesia berperan besar dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim global. Perubahan iklim ini muncul akibat pemanasan global yang dipicu emisi gas karbon dioksida (CO2). Sekitar 65 persen emisi CO2 dari energi listrik, transportasi, rumah tangga dan industri, sisanya emisi CO2 datang dari non-energi seperti konversi lahan, pertanian dan limbah.
Demikian yang diutarakan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Sesmenko Kesra) Indroyono Soesilo, saat memberikan kuliah umum di George Washington University, Washington DC, AS  belum lama ini. Dia merupakan pejabat publik Indonesia yang menerima penghargaan Fulbright Distinguished Scholar Award 2012 dari Pemerintah AS.

Topik kuliah umum yang disampaikan di hadapan para profesor, mahasiswa pascasarjana dan pemerhati Indonesia di AS itu adalah dampak dan peran negara kepulauan Indonesia terhadap perubahan iklim. “Gas CO2 ini kemudian diserap oleh hutan dan lautan. Melalui proses fotosintesis, gas CO2 tadi kemudian dikonversikan menjadi oksigen (O2) untuk dihirup oleh makhluk hidup dimuka Bumi,” lanjutnya dalam rilis yang diterima INDOPOS (Grup JPNN), Minggu (21/10).

Indonesia, yang memiliki kawasan hutan dan lautan yang luas, berperan sentral dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim global. Wilayah nusantara harus menanggung akibat meningkatnya temperatur muka laut, naiknya tinggi muka laut yang berakibat tenggelamnya beberapa pulau serta harus menghadapi kondisi variabilitas iklim seperti datangnya El Nino, atau kemarau panjang, serta La Nina, atau musim hujan yang berkepanjangan. Tidak ada jalan lain, selain negara-negara di dunia harus bekerja sama melalui adaptasi perubahan iklim, mitigasi perubahan iklim, peningkatan kegiatan pemantauan iklim dan pertukaran ilmu pengetahuan antara negara.

Indroyono menegaskan, walaupun Indonesia harus menghadapi dampak perubahan iklim global ini di negara sendiri, namun Indonesia juga tetap ingin berkontribusi demi kelestarian Planet Bumi. Sebut saja dengan menyodorkan Program REDD+ untuk pelestarian hutan tropis, merintis Coral Triangle Initiative (CTI) dalam rangka penyelamatan 75.000 kilometer-persegi terumbu karang di 6 Negara CTI. Termasuk secara sukarela akan menurunkan emisi CO2 sebesar 26 persen dengan kekuatan sendiri. Membidik sampai 41 persen hingga 2020 tentunya melalui dukungan Internasional.

Di setiap kesempatan, Indroyono selalu mengajak kerja sama dengan para pakar dan ilmuwan di AS di antaranya untuk pemantauan laut. Program pemasangan pelampung pengamat iklim di lautan Indonesia, yang dilaksanakan Indonesia bersama AS, Jerman, Tiongkok, Belanda dan Malaysia bisa membuahkan kemampuan memperdiksi kedatangan El Nino dan La Nina kurun 12 – 24 bulan kedepan.

“Ini sangat bermanfaat untuk antisipasi bencana, mengingat bila terjadi El Nino, maka kerugian ekonomi Asia-Pasifik bisa mencapai lebih dari USD 1 miliar,” ungkapnya. Sambil menirukan kata-kata mendiang Ronald Reagan, mantan Presiden AS, ia mengatakan, we have to act now, if not us who? If not now, when? Kuliah umum akan dilanjutkan sampai akhir Oktober 2012 ke University of Iowa, University of Washington di Seattle, Oregon State University di Corvalis dan University of California, Berkeley.(nel)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=313799

JAKARTA (Suara Karya): Indonesia yang memiliki kawasan hutan dan lautan yang luas, berperan sentral dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim global.

Selain itu, Indonesia juga harus menanggung akibat meningkatnya temperatur muka laut, naiknya tinggi muka laut yang berakibat tenggelamnya beberapa pulau serta harus menghadapi kondisi variabilitas iklim seperti datangnya El Nino, atau kemarau panjang, serta La Nina, atau musim hujan yang berkepanjangan.

“Tidak ada jalan lain, selain negara-negara di dunia harus bekerja sama melalui adaptasi perubahan iklim, mitigasi perubahan iklim, peningkatan kegiatan pemantauan iklim dan pertukaran ilmu pengetahuan antara negara,” kata Sesmenko Kesra, Indroyono Soesilo, ketika memberikan kuliah umum di Kampus-Kampus Amerika Serikat, antara lain The George Washington University, US-Indonesia Society (USINDO), University of Maryland dan University of Michigan, kemarin waktu setempat.

Sejak 14 Oktober 2012 lalu Sesmenko Kesra berada di Amerika Serikat guna penerima penghargaan Fulbright Distinguished Scholar Award 2012.

Menurut Sesmenko Kesra, perubahan Iklim global muncul akibat pemanasan global yang dipicu emisi gas karbon dioksida (CO2).

“65% emisi CO2 datang dari energi listrik, transportasi, rumah tangga dan industri, sedang 35% emisi CO2 datang dari non-energi seperti konversi lahan, pertanian dan limbah,” kata Indroyono.

Gas CO2 ini kemudian diserap oleh hutan dan lautan. Melalui proses fotosintesis, gas CO2 tadi kemudian dikonversikan menjadi oksigen (O2) untuk dihirup oleh mahluk hidup di muka Bumi.

Di hadapan para pakar lingkungan, pemerhati Indonesia, para mahasiswa serta para guru besar di kampus-kampus terkenal AS tadi, Indroyono menegaskan, walaupun Indonesia harus menghadapi dampak perubahan iklim global ini di negara sendiri, namun Indonesia juga tetap ingin berkontribusi demi kelestarian planet bumi.

Di antaranya dengan menyodorkan Program REDD+ untuk pelestarian hutan tropis, merintis Coral Triangle Initiative (CTI) dalam rangka penyelamatan 75.000 kilometer-persegi terumbu karang di 6 negara CTI, serta secara sukarela akan menurunkan emisi CO2 sebesar 26% dengan kekuatan sendiri, atau sebesar 41% dengan dukungan Internasional, pada tahun 2020. (Singgih BS)

 

 

Sumber: http://www.mongabay.co.id/2012/10/19/laporan-pbb-870-juta-penduduk-dunia-kurang-gizi-100-juta-diantaranya-balita/

 

Setiap tahun, dunia selalu defisit cadangan pangan utama. Salah satunya beras. Pertumbuhan penduduk dan kondisi cuaca yang semakin ektrem sebagai dampak dari perubahan iklim, membuat angka kekurangan gizi penduduk dunia masih sangat tinggi. Foto: Aji Wihardandi

Kondisi dunia saat ini, dimana internet dan sosial media merajalela lewat puluhan jenisgadget canggih terkini, ternyata masih terdapat 870 juta orang yang masih mengalami kekurangan gizi. Angka ini, kira-kira sama dengan satu dari delapan penduduk dunia masih jauh dari kondisi sehat. Hal ini terungkap dalam laporan terkini PBB.

Kendati angka kelaparan dunia menurun dari tahun 1990 hinga 2007, namun kemajuan yang diraih sangat lamban, terkait krisis ekonomi global. Apalagi, dalam beberapa tahun belakangan ini, berbagai kondisi cuaca yang ekstrem juga sangat mempengaruhi produksi pangan dunia.

Ternak mati akibat kemarau berkepanjangan di Afrika Timur tahun 2011 silam. Foto: Oxfam Afrika Timur

“Kami rasa itu hal yang tidak bisa diterima samasekali dengan adanya fakta lebih dari 100 juta anak balita mengalami kekurangan berat badan,” dalam pembukaan laporan yang dikerjakan bersama antara Food and Agriculture Organization (FAO), International Fund for Agricultural Development (IFAD), dan World Food Programme (WFP), berjudul State of Food Insecurity in the World 2012. Dalam laporan ini juga dibahas betapa sulitnya untuk mengembangkan potensi bocah-bocah tersebut baik potensi sebagai manusia maupun sosial ekonomi, mengingat kekurangan pangan ini menjadi penyebab kematian 2,5 juta anak setiap tahun.

Sejak awal 1990-an hingga hari ini, jumlah penduduk dunia yang kelaparan berkurang hingga 132 juta orang, atau turun sekitar 18,6% menjadi 12,5% dari populasi total dunia. Kendati terjadi kemajuan, setiap wilayah ternyata mengalami hal yang berbeda-beda.

Faktanya, di Afrika kelaparan meningkat. Sekitar 64 juta orang mengalami kelaparan sejak tahun 1990-an. Pertumbuhan jumlah penduduk juga yang tertinggi di Afrika.

Secara keseluruhan, dunia berharap bisa menekan angka kelaparan hingga 11,6% di tahun 2015, sebagai salah satu Tujuan Pembangunan Millenium atau Millenium Development Goals (MDG). Namun para ahli mengatakan, hal ini mungkin akan sulit untuk dicapai, terutama mengingat pertumbuhan penduduk dunia yang terus terjadi dan meningkatnya berbagai peristiwa cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir, dimana hal itu terkait langsung dengan perubahan iklim.

Seperti yang sudah terjadi di Amerika Serikat yang mengalami gelombang panas dan kekeringan, lalu di Eropa yang diterjang banjir, serta kemarau panjang di Rusia dan Ukraina telah menybabkan turunnya produksi pangan dunia. Sementara itu, meningkatnya permintaan akan daging dan produk-produk turunannya di negara berkembang dan konflik berkepanjangan antara pangan dan biofuel semakin memperbesar biaya pangan global. Dan pada akhirnya, ledakan populasi di berbagai belahan dunia memaksa produksi pangan harus terus berkembang setiap tahun untuk mengejar ketertinggalan.

“Kita tidak sanggup memproduksi pangan sebanyak kita mengonsumsinya. Itu sebabnya cadangan pangan terus menurun. Suplai pangan sangat terbatas di seuruh dunia dan cadangan pangan berada di level sangat rendah, sehingga tak bisa mengantisipasi jika sesuatu terjadi di tahun berikutnya,” ungkap Abdolreza Abbassian, ahli ekonomi di FAO kepadathe Guardianbaru-baru ini.

Dunia mengonsumsi pangan lebih dari yang mampu disediakan. Foto: Rhett A. Butler

Tahun 2012, diharapkan menjadi tahun keenam di sebelas tahun terakhir dimana masyarakat global mengonsumsi pangan lebih dari kemampuan ketersediaannya. Ketidakberimbangan ini telah menyebabkan cadangan pangan banyak negara berkurang secara signifikan dalam sepuluh tahun terakhir.

Kendati demikian, para ahli mengatakan bahwa situasi terkini belum mencapai level krisis di tahun 2008 atau 2011. Pertumbuhan komoditi gandum, padi dan gula masih baik sejauh ini. Namun jika cuaca ekstrem kembali terjadi tahun depan, hal itu bisa menekan produksi pangan dan harga pangan ke arah yang berbahaya.

Pada akhirnya, laporan PBB ini menggarisbawahi bahwa 870 juta orang di dunia masih kekurangan gizi, sementara 1,4 juta orang lain mengalami obesitas dan penyakit terkait. Hal ini meninggalkan tanda tanya besar, apakah pertumbuhan ekonomi berkorelasi dengan nutrisi yang lebih baik.

Sumber :http://www.mongabay.co.id/2012/10/19/laporan-pbb-870-juta-penduduk-dunia-kurang-gizi-100-juta-diantaranya-balita/#ixzz29jeVi4PU

Sumber: http://web.inilah.com/read/detail/1916969/ri-bagi-pengalaman-perubahan-iklim

INILAH.COM, Jakarta – Indonesia siap berbagi informasi dan pengalaman pencapaian program penurunan emisi gas rumah kaca dan adaptasi perubahan iklim kepada dunia internasional, bulan depan.

Indonesia akan menyelenggarakan Indonesia Climate Change Day pada konferensi ke-18 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), 26 November-7 Desember mendatang di Doha, Qatar.

“Selain sarana informasi tantangan dan upaya mengatasi perubahan iklim, Indonesia Climate Change Day juga soft diplomacy di dunia internasional,” ujar Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Rachmat Witoelar.

Indonesia Climate Change Day diawali pada 1 Desember 2012 dengan serangkaian seminar dan lokakarya yang akan mengetengahkan basis ilmiah perubahan iklim serta tantangan dan peluang bisnis dalam menanggulangi perubahan iklim.

Tema yang diusung, ‘The Business Response to the Challenges and Opportunities of Climate Change in Indonesia’. Tujuannya, mendorong pengembangan progam dan bisnis dengan melibatkan secara langsung dialog antara pengambil keputusan.

Pada 1 dan 2 Desember 2012 di tempat yang sama, akan diselenggarakan pameran yang diperkaya pertunjukan budaya dan kuliner Indonesia.

UNFCCC merupakan ajang pertemuan negosiasi internasional perubahan iklim yang dihadiri oleh perwakilan badan-badan PBB, pejabat pemerintah, organisasi antar pemerintah dan LSM dari berbagai negara.

Sumber: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=35595

Gubernur Minta 4 Bupati Berantas Tambang Liar

Padang, Padek—Gubernur Sumbar Irwan Prayitno me­nginstruksikan bupati Solok, So­lok Selatan, Sijunjung dan Dhar­masraya segera mere­habi­lita­si da­erah aliran sungai (DAS) Ba­tang Hari. Pasalnya, sungai yang berhilir ke Jambi itu, me­nga­lami penurunan kualitas aki­bat pe­nambangan emas secara liar.

Jika tak segera ditangani, dikhawatirkan memunculkan bencana besar. “Saya minta  segera mengambil langkah pe­nanganan agar tidak me­nim­bulkan benca­na di kemudian hari,” ujar Irwan Prayitno ke­padaPadang Eks­pres beberapa waktu lalu.

Mengingat tingginya angka kejadian dan potensi bencana di Sumbar, diharapkan seluruh bupati dan wali kota mem­bentuk forum pengurangan risiko bencana (F-PRB) di kabu­paten/kota. Pemerintah daerah seyogianya melibatkan dan me­ngem­bangkan secara terpadu kegiatan mitigasi bencana mela­lui LSM, Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau, Maje­lis Ulama Indonesia (MUI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan perguruan tinggi.

“Keterlibatan sektor swasta atau dunia usaha, melalui pe­man­faatan dana CSR, dalam bentuk kegiatan mitigasi dan pe­ngurangan risiko serta tinda­kan darurat bencana, perlu di­gia­tkan dan ditingkatkan,” ujarnya.

Mantan anggota DPR itu mengatakan, pemerintah daerah perlu mewaspadai perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan benca­na, khususnya longsor. “Cuaca sering berubah-ubah atau eks­trem, masyarakat diminta was­pada dengan perubahan cuaca,” ucapnya.

Mitigasi longsor bisa dila­ku­kan dengan pemetaan zona ke­rentanan gerakan tanah (ZKGT). Zona kerentanan gera­kan tanah terdiri dari 4 tingkatan, yakni zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah, zona kerentanan gerakan tanah rendah, zona  kerentanan gerakan tanah me­nengah dan zona kerentanan gerakan tanah tinggi. Langkah lainnya adalah pemantauan gerakan tanah.

Langkah mitigasi lainnya, sambung Irwan, meningkatkan kewaspadaan menghadapi gera­kan tanah dengan mening­kat­kan koordinasi dengan BPBD, memasyarakatkan informasi bencana berupa hasil kajian, peta pemantauan dan penelitian melalui penyuluhan, pelaporan, media massa, poster analisa risiko dan pengembangan tata ruang wilayah, memberdayakan ma­syarakat dalam memahami in­formasi gerakan tanah, me­masyarakatkan kelembagaan penanggulangan bencana agar masyarakat tahu ke mana harus melapor.

“Itu sejumlah langkah miti­gasi yang dapat dilakukan sebe­lum kejadian. Ini perlu dila­kukan untuk menimalisir dam­pak,” sarannya.

Langkah mitigasi sesudah kejadian adalah tahap tanggap darurat meliputi pembentukan tim reaksi cepat setelah mene­rima informasi awal tanah long­sor dan memeriksa kondisi bencana serta memberikan re­ko­mendasi teknis penang­gu­langan kepada pemerintah da­e­rah setempat. Tahap selan­jutnya adalah tahap rehabilitasi. Pada tahap ini, melakukan pemulihan kembali fungsi ekonomi, sosial dan sarana prasarana berda­sarkan aspek geologi.

Tahap rekonstruksi perlu dilakukan untuk membangun kembali daerah yang terkena tanah longsor dengan bangunan penahan tanah longsor dengan memasukkan rekomendasi tek­nis aspek geologi.

Tiga belas kota dan kabu­paten di Sumatera Barat diminta untuk melakukan miti­gasi terha­dap bencana longsor. Yakni Pa­dang, Kabupaten Solok, Solok Sel­atan, Pesisir Selatan, Sawah­lun­to, Sijunjung, Padang­paria­man, Tanahdatar, Bukittinggi, Agam, Pasaman dan Limapuluh Kota.

“Yang mendesak kawasan Lembah Anai, harus segera dilakukan pembersihan. Yang berdekatan dengan kawasan itu, segera menurunkan tim pem­ber­sihan. Saya harapkan BPBD provinsi  mengkoordinasikan untuk pembersihan Lembah Anai ini,” sarannya.

Gubernur juga meminta BPBD Sumbar dan Padang terus memantau aliran Batang Kuran­ji setiap saat. “Banjir bandang itu kelalaian kita semua. Kita di sini ya Pemprov, Pemko dan ma­syarakat. Banjir bandang jangan terjadi lagi. Malu kita jika itu terus terjadi. Jangan hujan terus dijadikan alasan, seperti tak ada pemerintah saja,” sebutnya.(*)

Sumber: http://www.mongabay.co.id/2012/10/05/polling-indonesia-paling-rasional-soal-perubahan-iklim-as-dan-inggris-ragu/

Peta Wilayah yang paling percaya bahwa perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia. Sumber: Ipsos. Klik untuk memperbesar peta.

Buat anda, yang selama ini masih percaya bahwa orang-orang di negara barat jauh lebih mudah percaya dengan hasil karya ilmiah karena latar belakag pola pikir mereka yang rasional, nampaknya harus berpikir ulang. Hal ini terungkap dalam sebuahsurvey yang diadakan oleh sebuah perusahaan asuransi dunia bernama AXA bersama dengan lembaga survey Ipsos, yang telah melakukan survey kepada 13.492 orang di 13 negara termasuk Indonesia tentang perubahan iklim.

Ternyata, diluar dugaan negara-negara yang selama ini dinilai memiliki standar pendidikan dan keilmiahan tinggi justru menjadi negara yang paling tinggi tingkat keraguan dan ketidak percayaan mereka bahwa perubahan iklim itu telah terjadi dan sudah terbukti secara ilmiah. Tingkat kepercayaan terendah adalah Jepang dengan 58%, disusul oleh Inggris 63% dan Amerika Serkat 65% yang penduduknya yakin bahwa perubahan iklim sudah terjadi dan terbukti secara ilmiah.

Selain Amerika Tengah, Indonesia adalah negara yang paling yakin bahwa perubahan iklim terjadi dalam 20 tahun terakhir. Sumber: Ipsos. Klik untuk memperbesar peta.

Siapa negara yang rakyatnya paling percaya bahwa perubahan iklim sudah terjadi dan terbukti secara ilmiah? Indonesia jawabannya! sekitar 95% warga yang disurvei di negara kita yakin, bahwa perubahan iklim ini sudah terjadi dan terbukti secara ilmiah. Disusul oleh Hongkong dengan 89% dan Turki 86%.

Survey ini membuktikan, bahwa dengan tingkat pendidikan yang tinggi, banyak warga di Amerika Serikat dan Inggris ternyata masih ragu, bahwa perubahan iklim itu memang sebuah fenomena yang nyata secara ilmiah.

Dalam survey ini juga terungkap bahwa kenaikan suhu, kekeringan dan curah hujan yang ekstrem menjadi sebuah fenomena yang paling ditandai oleh warga akan adanya sebuah perubahan signifikan di lingkungan mereka.

Selain itu, warga dengan tingkat keyakinan tinggi ini juga percaya, bahwa tingkah polah manusia itu adlah penyebab paling utama atau yang paling bertanggung jawab atas terjadinya perubahan iklim di dunia. Di Hongkong 94% orang percaya dengan hal ini, disusul Indonesia 93%, lalu Mexico dengan 92% dan Jerman dengan 87%.

Dalam survey serupa yang diadakan oleh lembaga Angus Reid terhadap warga Amerika Serikat, Inggris dan Kanada, juga memberi hasil serupa, bahwa orang Kanada ternyata jauh lebih yakin bahwa perubahan iklim itu sesuatu yang ilmiah dan sedang terjadi. Sementara  21% orang Amerika dan 22% orang Inggris masih yakin bahwa perubahan iklim itu ‘cuma teori belaka yang belum terbukti’.

Christina Figueres, salah satu pejabat di Persatuan Bangsa-Bangsa mengatakan dalam sebuah konferensi pers terkait hasil polling ini bahwa keraguan seputar perubahan iklim sudah mulai mereda.

Survey ini digelar di Belgia, Inggris, Perancis, Jerman, Hongkong, Indonesia, Italia, Jepang, Mexico, Spanyol, Swiss, Turki dan Amerika Serikat. Ajaib, tak satupun dari negara-negara adidaya ekonomi dan politik dunia ini yakin sepenuhnya bahwa perubahan iklim terbukti secara ilmiah. Mungkin mereka tak merasakan dampaknya secara langsung seperti Indonesia yang kehilangan jutaan hektar hutan tropis setiap tahun dan harus berkutat dengan bencana yang semakin tinggi frekuensi dan levelnya.

Sumber: http://www.dw.de/dw/article/0,,16286865,00.html

Terumbu karang Great Barrier Reef di Australia hampir separuhnya mati. Hasil sebuah studi menunjukkan apa yang paling berbahaya bagi terumbu karang itu. Dokumentasi web DW “Namatis Welt” melengkapi penjelasannya.

Seberapa parah kematian terumbu karang terbesar sedunia di kawasan Pasifik Selatan, yakni Great Barrier Reef di Australia Timur dipublikasikan dalam sebuah hasil studi yang dilakukan peneliti Universitas Wolongong dalam sebuah majalah ilmiah “Proceedings of the National Academy of Sciences.”

Menurut studi tersebut dalam 27 tahun terakhir sekitar separuh dari seluruh terumbu karang atau koloni koral Australia punah.

Yang mengejutkan: Bukan perubahan iklim dan faktor-faktor yang terkait dengan itu yakni kenaikan suhu air laut dan kenaikan tingkat keasaman air laut, yang menjadi penyebab utama kematian massal koloni koral, melainkan badai dan serangan bintang laut yang terutama berkembang biak secara agresif.

Bintang laut dari jenis “Mahkota Duri” memangsa terumbu karang hingga habis. Jenis bintang laut ini terutama dapat berkembang biak dengan pesat, karena mendapat imbuhan bahan pangan yang masuk ke laut, terutama dari sektor pertanian yang meningkat pesat pada beberapa dekade terakhir.

Terumbu karang yang masih sehat berwarna-warni cemerlang.

 

Pemupukan Berlebihan Picu Pemangsa

Bintang laut jenis “Mahkota Duri” dengan demikian menjadi musuh utama terumbu karang. Peneliti Australia menuduh binatang ini bertanggung jawab atas punahnya sekitar 50 persen terumbu karang.

Sementara lebih dari sepertiga populasi terumbu karang musnah akibat badai, yang merusak mekanisme terumbu karang. Di tempat ketiga barulah perubahan iklim dan meningkatnya keasaman laut. Karena CO 2 dalam air bersenyawa menjadi asam karbonat. Pemucatan terumbu karang yang ditimbulkannya, menyebabkan kepunahan sekitar 18 persen koloni koral. Kerusakan ini terutama terjadi amat parah tahun 1998 dan 2002.

Tapi laju kematian koloni koral itu bukannya tidak dapat dihentikan dan dipulihkan kembali. Ketua Institut untuk Ilmu Kelautan Australia, John Gunn memperkirakan, bahwa terumbu karang dalam waktu puluhan tahun dapat pulih kembali, jika pembuangan air limbah ke laut dapat dihentikan.

Dunia dari Sudut Pandang Terumbu Karang

Lebih jauh terkait kekhawatiran dan harapan koloni terumbu karang dari sudut pandang mereka, diungkap dalam film dokumentasi internet produksi Deutsche Welle “Dunia Namatis – Impian dan Ketakutan sebuah terumbu karang kecil di Pasifik Selatan.”

http://webdocs.dw.de/vanuatu/en

Kisah yang diproduksi secara multimedia oleh Joachim Eggers mengajak para user ke dunia di bawah laut di dekat Pulau Pele di negara kepulauan kecil di Pasifik, Vanuatu. Anda diajak mengenal ancaman kehidupan di bawah laut akibat pemupukan berlebihan dan peningkatan pesat keasaman air laut.

Sumber: http://teknologi.inilah.com/read/detail/1911977/suhu-kutub-utara-tertinggi-di-1800-tahun-terakhir

INILAH.COM, New York – Kawasan Arktik di Kutub Utara saat ini mengalami temperatur tertinggi sepanjang 1.800 tahun terakhir. Wilayah tersebut mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dibandingkan dengan daerah lain di seluruh planet Bumi.

Para ilmuwan dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, AS, menganalisa tingkat lemak tak jenuh pada ganggang yang terkubur dalam lapisan sedimen di Danau Kongressvatnet di Kepulauan Svalbard, Norwegia. Wilayah ini termasuk ke dalam kawasan Kutub Utara.

Para ilmuwan ini menyebutkan bahwa pada air yang lebih dingin, ganggang memproduksi lebih banyak lemak tak jenuh. Sementara jika kondisi air lebih hangat, mereka sedikit memproduksi lemak jenuh. Tingkat lemak pada ganggang itu bisa menyediakan informasi perubahan iklim yang terjadi di masa lalu.

Dari penelitian terhadap ganggang itu didapatkan hasil bahwa musim panas di wilayah itu kini lebih hangat dibandingkan temperatur sebelumnya sepanjang 1.800 tahun terakhir.

“Hasil penelitian kami mengindikasikan bahwa temperatur musim panas yang terjadi saat ini di Svalbard lebih tinggi, bahkan jika dibandingkan dengan periode terpanas yang pernah terjadi di sana,” tulis William D’Andrea, ilmuwan asal Columbia University, AS di jurnal Geology seperti dikutip oleh Phys.org.

Pengukuran suhu yang dilakukan para ilmuwan ini juga menunjukkan bahwa kawasan Arktik mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dibandingkan dengan kawasan lain di seluruh planet Bumi, dengan tingkat ketebalan es di laut mencapai titik paling tipis dalam sejarah.

Hilangnya lapisan es ini menyebabkan laut menyerap lebih banyak energi dari matahari dan kemudian melelehkan lebih banyak es yang akan terus mengakibatkan kenaikan penyerapan energi panas. [mor]

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2012/10/03/15491541/Bandar.Lampung.Jadi.Kota.Percontohan.Adaptasi.Perubahan.Iklim

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com – Kota Bandar Lampung terpilih menjadi salah satu dari dua kota di Indonesia dalam program Jejaring Ketahanan Kota-Kota Asia terhadap Perubahan Iklim atau Asian Cities Climate Change Resiliance Network (ACCCRN). Selain Bandar Lampung, Semarang merupakan kota yang terpilih dalam program ini.

Hal itu diungkapkan Program Koordinator ACCCRN Budi Chairuddin dalam kegiatan site visit ke Kelurahan Langkapura, Kecamatan Kemiling Bandar, Lampung, Rabu (3/10/2012). Kunjungan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Forum Pembelajaran ACCCRN yang diadakan di Bandar Lampung sejak Senin (1/10/2012). Forum ini beranggotakan 10 negara, antara lain India, Vietnam, Thailand, Bangladesh, Kanada, Inggris dan Amerika Serikat.

Dalam kunjungan itu, para delegasi forum ini melihat kegiatan implementasi pembuatan biopori oleh warga Langkapura. Biopori ini merupakan bagian dari kegiatan adaptasi untuk mengatasi kekeringan ekstrim yang secara tidak langsung tercipta sebagai dampak dari perubahan iklim global. Kegiatan pembuatan biopori secara serentak ini dilaksanakan oleh LSM Mitra Bentala, Rockefeller Foundation dan MercyCorps. “Program ini akan berlangsung hingga 2016 mendatang. Kota-kota lain di Indonesia akan berlajar dari Bandar Lampung dan Semarang terkait pelaksanaan adaptasi (perubahan iklim) ini,” ujar Budi.

Sumber: http://www.fajar.co.id/read-20121002003955-cermin-raksasa-asteroid-atasi-global-warming

SKOTLANDIA, FAJAR — Para ilmuwan menyarankan solusi enginering luar angkasa untuk memerangi pemanasan global. Solusi tersebut dengan membangun semacam filter di antara bumi dan matahari diatas sebuah asteroid sehingga mampu menyaring intensitas sinar matahari menuju planet bumi.

Dijelaskan dalam livescience, awan debu raksasa di ruang angkasa yang lepas landas dari sebuah asteroid akan bertindak seperti kerai untuk bumi. Hal ini dipandang lebih solutif dibandingkan dengan beberapa proyek kontroversial yang berupaya memanipulasi iklim melalui skala besar proyek-proyek teknik, yang lazim disebut geoengineering. Semisal, mengurangi emisi gas rumah kaca yang menjebak panas matahari serta proyek lainnya.

Daripada mengubah iklim dengan menargetkan lautan atau atmosfer, beberapa peneliti Skotlandia menyarankan geoengineering proyek-proyek yang akan mempengaruhi seluruh planet dari luar angkasa.

Sebagai contoh, proyek-proyek yang mengurangi jumlah radiasi yang diterima bumi hingga 1,7 persen, bisa mengimbangi efek global peningkatan suhu hingga 3.6’ F atau sekira 2’ C. Sebuah panel Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) antar pemerintah tentang perubahan iklim (IPCC) telah mencatat model iklim bumi yang menyebutkan kemungkinan akan peningkatan rata-rata suhu global sekitar 11.5’ F  atau 6.4’ C pada akhir abad ini.

“Pengurangan 1,7 persen sangat kecil dan tidak akan terlihat di bumi,” kata peneliti Russell Bewick, seorang ilmuwan ruang di Universitas Strathclyde di Skotlandia.

Ilmuwan telah meluncurkan satu proposal penempatan cermin raksasa antara bumi dan matahari. Masalah utama dengan konsep ini adalah biaya yang besar dan upaya yang diperlukan untuk membangun dan meluncurkan seperti reflektor untuk pembangunannya di luar angkasa. Lain halnya dengan penggunaan selimut debu untuk menreduksi cahaya matahari, seperti yang dilakukan awan di bumi.

Gagasan kontroversial ini, bakal menempatkan sebuah asteroid di titik Lagrange, titik L1, tempat dimana tarikan antara gravitasi matahari dan bumi bisa mempertahankan asteroid di posisi tersebut. Titik ini berjarak sekitar empat kali jarak dari Bumi ke bulan.

Para peneliti menghitung bahwa asteroid terbesar dekat bumi, yaitu 1036 Ganymed, bisa mempertahankan awan debu yang cukup besar untuk menghalangi 6.58 persen  radiasi matahari yang biasanya akan mencapai bumi. Ini dipandang lebih dari cukup untuk memerangi pemanasan global saat ini.

Jika terlaksana, assteroid ini akan melontarkan awan raksasa dengan luas wilayah sekitar 5 ribu triliun kilogram massa dan lebar sekira 1.600 mile atau 2.600 kilometer.

Asteroid Ganymed sendiri diperkirakan memiliki massa sekitar 130 ribu triliun kilogram. Dengan ukuran ini asteroid tersebut dapat menimbulkan bencana seperti yang digambarkan dalam film Armageddon. (jpnn)

Sumber: http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/10/121001_climatefish.shtml

Para ilmuan memperingatkan ukuran spesis ikan diperkirakan akan menyusut hingga 24% akibat pemanasan global.

Para peneliti menggunakan model dampak kenaikan suhu pada lebih dari 600 spesis antara 2001 dan 2050.

Air yang lebih hangat dapat menurunkan tingkat oksigen laut dan mengurangi bobot tubuh ikan secara signifikan.

Para ilmuan juga menyatakan kegagalan mengendalikan emisi gas rumah kaca akan memiliki dampak yang lebih besar pada ekosistem laut dari dugaan sebelumnya.

Sebelumnya, riset telah menunjukkan bahwa perubahan suhu laut akan berdampak pada distribusi dan kemampuan reproduksi banyak spesis ikan.

Riset dilakukan dengan membangun model untuk melihat bagaimana ikan bereaksi terhadap tingkat oksigen yang lebih rendah di dalam air.

Mereka menggunakan data dari salah satu skenario emisi yang dibangun oleh Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC).

Menghangatkan ikan

Hasil penelitian menunjukkan meski data memproyeksikan perubahan kecil pada suhu dasar laut, efek pada ukuran tubuh ikan “sangat besar”.

Ketika suhu laut meningkat, suhu tubuh ikan juga meningkat. Namun, menurut penulis Dr William Cheung, dari Universitas British Columbia, tingkat oksigen di dalam air adalah kuncinya.

“Kenaikan suhu secara langsung meningkatkan kecepatan metabolisme fungsi tubuh ikan,” kata dia pada BBC.

“Hal ini menyebabkan tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga ikan akan kekurangan oksigen yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya dan hasilnya bobot tubuhnya menyusut.”

Tim peneliti juga menggunakan model ini untuk memprediksi gerakan ikan di dalam air sebagai akibat menghangatnya air.

Populasi ikan diyakini akan bergerak ke dua kutub bumi dengan kecepatan 36km per dekade.

“Jadi kelak, misalnya di Laut Utara,” kata Dr Cheung, “Kita memperkirakan akan melihat ikan yang berasal dari laut tropis dengan ukuran tubuh lebih kecil di masa mendatang.”

« Previous PageNext Page »