Archive for the ‘Teras Narang’ Category

  http://www.greenradio.fm/news/latest/7374-pavilion-indonesia-ajang-promo-antisipasi-perubahan-iklim-di-durban

Tuesday, 06 December 2011 10:46 Artha Senna, Reporter Green Radio

Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Teras Narang (kiri) dan moderator diskusi Ketua Pokja Mitigasi Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Farhan Helmy (tengah) dan Jonah Busch dari Conservation International (kanan) mendengarkan pertanyaan dari audience saat sesi diskusi

Keikutsertaan Indonesia sebagai salah satu delegasi dalam pertemuan tinggat tinggi perubahan iklim COP ke 17 di Durban, Afrika Selatan bukan sekadar hadir saja. Berbagai hal dalam kegiatan terkait perubahan iklim di promosikan di Pavilion Indonesia.

Pavilion Indonesia pertama kali dibuat pada saat Indonesia menjadi tuan rumah UNFCCC COP13 di Bali 2007 lalu.  Pavillion Indonesia yang kedua kali diselenggarakan di pertemuan PBB mengenai Perubahan Iklim ini, dirancang dengan tema “Indonesia, solutions for the world”, dengan 4 fokus solusi, yaitu Forestry and Biodiversity Solutions, Power & Energy Solution, Innovation & Investment Solutions and Climate Resilience Solutions.  Berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kementerian, private sektor, LSM dan lembaga donor terlibat di dalam penyelengaraannya.

“Ada banyak hal yang sudah dilakukan di Indonesia terkait kegiatan  menangulangi perubahan iklim, terutama kepemimpinan Presiden SBY sebagai Negara berkembang pertama yang memberikan komitmen sukarela untuk menurunkan emisi 26%,” jelas Rachmat Witoelar dari press rilis dari Delegasi Republik Indonesia Delri yang dikirim ke Green Radio. Pavilion ini merupakan tempat untuk mempromosikan semua kegiatan yang sudah dilakukan oleh Indonesia selama ini dalam menangulangi perubahan iklim.

REDD+ di Kalimantan Tengah

Salah satu yang meramikan Pavilion Indonesia adalah Teras Narang, Gubenur Kalimantan Tengah  yang memberikan update terhadap program yang sudah berjalan terkait pengurangan emisi gas rumah kaca dari deforestasi hutan (REDD+). Teras menjelaskan bahwa Kalteng telah dipilih oleh Presiden SBY  sebagai propinsi percontohan pelaksanaan REDD+  karena dianggap siap untuk melakukannya. Dengan luas 15,36 juta hektar, Kalteng diperkirakan memiliki total simpanan karbondioksida (Co2) di lahan gambut sebesar 11.374,56 juta ton Co2 ekuivalen atau 56 persen dari perkiraan total 6.352,52 juta ton Co2 di seluruh lahan gambut Kalimantan.

 “Ini merupkan pengalaman pertama kami terlibat dalam konferensi perubahan iklim. Kami ingin mengetahui lebih banyak tentang REDD dan apa yang bisa dilakukan bersama,” kata Teras. Ada beberapa pihak yang bersedia membantu Pemprov Kalteng dalam hal penanganan database, penghitungan deposit karbondioksida dan transfer teknologi terkait REDD+ tambahnya.

Pada kegiatan lainnya di Pavilion Indonesia, Farhan Helmy dari Dewan Nasional Perubahan Iklim DNPI dan Jonah Busch dari Concervation International CI, memaparkan  model OSIRIS (Open Source Impacts of REDD Incentives Spreadsheet) yang dapat digunakan sebagai basis dalam melihat berbagai pilihan serta dampak dari skema REDD+ baik secara ekonomi, potensi pengurangan deforestasi yang terintegrasi ke dalam pembangunan rendah karbon.

Farhan menjelaskan hasil dari model tersebut selanjutnya akan diuji di tingkat propinsi maupun kabupaten untuk mendapatkan satu struktur insentif yang lebih teliti di dalam merespon berbagai dinamika sosial dan ruang terutama di areal yang menjadi target implementasi program REDD+, salah satunya di Kalimantan Tengah.

Model ini juga akan dikembangkan untuk mencakup sektor-sektor mitigasi lain yang lebih komprehensif, seperti sektor energi, pertanian, di dalam konteks pembangunan rendah emisi karbon. Dalam pengembangannya model ini, dilakukan  kerjasama dengan lembaga penelitian maupun pemerintah daerah, seperti di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, Sumatera dan Papua.

Sementara itu Jonah Busch mengatakan kelebihan sistem pendukung pengambil keputusan (Decision Support System) OSIRIS adalah sangat terbuka, online, gratis dan berbasis “open source”. Model OSIRIS ini menggabungkan model spasial dan ekonomi (spatial econometric model) dari penggunaan lahan dengan insentif REDD+, keterlibatan pemerintah daerah dan swasta.

OSIRIS-Indonesia bisa digunakan untuk mengidentifikasi emisi terbaru dari deforestasi dan daerah rentan beremisi, daerah target program percontohan REDD, memprediksi kebutuhan pendanaan untuk pencapaian komitmen nasional, memperkirakan pengurangan emisi dan pendapatan yang dicapai berdasar alternatif insentif struktur ekonomi untuk REDD+.

Hadirnya Pavilion Indonesia bukan hanya sebagai penambah keramaian COP 17 tetapi bentuk sumbang pengalaman untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi pada peserta pertemuan itu.

Advertisements