Archive for the ‘Illegal Logging’ Category

Advertisements
Penulis : Bagus Himawan
Kamis, 19 Januari 2012 17:52 WIB

PEKANBARU–MICOM: Hutan alam di kawasan Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, digasak para pelaku pembalakan liar. Diduga kuat hasil penjarahan hutan alam itu diselundupkan ke negeri tetangga, Malaysia dan Singapura.

Kondisi itu diketahui oleh Ketua Forum Anggota DPR RI asal Riau Wan Abu Bakar setelah melakukan pemantauan udara terhadap kondisi hutan alam di wilayah Pulau Padang.

“Dengan kasat mata, setidaknya ada 10 bedeng sawmill atau tempat penggergajian kayu yang tersebar di berbagai penjuru kawasan hutan alam Pulau Padang. Sawmil inilah yang menampung kayu hasil pembalakan liar di sana,” kata Wan, Kamis (19/1).

Tidak hanya tempat penggergajian, mantan wakil gubernur Riau itu juga menemukan kamp pekerja yang diduga sebagai tempat berteduh para pelaku pembalakan liar. Ia menyinyalir aktivitas pembalakan di hutan alam itu sudah berlangsung lama.

Usai memantau dari udara Wan kemudian berdialog dengan sejumlah kelompok masyarakat Pulau Padang. Menurutnya, sejumlah warga mengaku aktivitas pembalakan liar memang menjadi salah satu mata pencarian mereka. Namun, belakangan sebagian besar warga Pulau Padang berhenti menebang kayu secara ilegal, terutama sejak perusahaan hutan tanaman industri (HTI) Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) beroperasi di Pulau Padang.

“Mereka menyambut baik kehadiran RAPP di Pulau Padang dan lebih memilih bekerja pada perusahaan tersebut ketimbang harus melakukan pembalakan liar,” jelas Wan.

Ia juga menduga, para cukong pembalakan liar ikut menunggangi penolakan sekelompok masyarakat Pulau Padang atas kehadiran RAPP. “Sangat mungkin para cukong kayu ketakutan kalau perusahaan jadi buka HTI di Pulau Padang. Karena dengan adanya HTI, para cukong tidak bisa lagi melakukan aktivitas pembalakan liar,” ungkap Wan. (BG/OL-01)

Nasional / Rabu, 18 Januari 2012 18:54 WIB

Metrotvnews.com, Singaraja: Kondisi hutan di Kabupaten Buleleng kian kritis akibat maraknya penebangan pohon secara liar di beberapa kawasan hutan lindung di wilayah ini. Lucunya hal itu justru luput dari dinas terkait di Buleleng, Bali.

Beberapa kawasan hutan di Buleleng diyakini telah mengalami kondisi yang kritis dan rawan longsor. Selain karena curah hujan yang tinggi beberapa hari belakangan ini, kondisi itu juga karena maraknya penebangan hutan di beberapa kawasan hutan lindung. Kondisi itu membuat warga khawatir akan timbulnya bencana alam di wilayah mereka.

Kawasan hutan lindung yang kian kritis di antaranya berada di wilayah Desa Galungan Kecamatan Sawan. Menurut Soni, warga setempat, pencurian kayu di hutan desa mereka disinyalir dilakukan oleh orang luar desa.

“Pelakunya dari luar desa kami, mereka punya mata-mata sehingga sering luput dari pantauan petugas,” terangnya, Rabu (18/1).

Soni meyakini jika hal itu terus dibiarkan, Desa Galungan dan desa yang berada di sekitar kawasan tersebut akan rawan bencana.

“Kami berharap instansi terkait agar segera melakukan tindakan. Jangan sampai hal ini menimbulkan korban dikemudian hari,” ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas kehutanan dan Perkebunan kabupaten Buleleng I Komang Gde Yasa berjanji akan segera menindaklanjuti informasi tersebut.

“Kita baru mendengarnya, atas informasi tersebut, kita akan segera menindaklanjutinya,” tegasnya.(MI/DSY)

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/19/292561/126/101/Polisi-Hutan-Tangkap-Empat-Perambah-Hutan-Langkat

 

Kamis, 19 Januari 2012 11:43 WIB

 

LANGKAT–MICOM: Empat orang pelaku perambahan hutan mangrove di Desa Kuala Serapuh, Kecamatan Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, ditangkap Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Macan Tutul Dinas Kehutanan di daerah itu.

“Empat tersangka itu diamankan dari Lokasi Paluh Serawak,” kata Kepala Seksi Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Langkat Azrinal Lubis, di Stabat, Kamis (19/1).

Dikatakannya, penangkapan tersebut terjadi, Rabu (18/1) sekitar pukul 17.00 WIB, saat SPORC sedang melaksanakan pemantauan di lokasi hutan mangrove di Desa Kuala Serapuh.

“Tim SPORC Macan Tutul itu melihat empat orang yang sedang melakukan aktivitas di lahan mangrove,” kata Lubis.

Kemudian, tim tersebut langsung menahan orang pelaku, yang terdiri atas Sunarto, Iyan, penduduk Simpang Ladan Hinai, serta Rustam dan Ansari, penduduk Jalan Jurung Tanjungpura.

Sunarto dan Iyan dipergoki petugas sedang melakukan penanaman semangka di lahan hutan mangrove yang sudah diubah fungsinya dijadikan perkebunan sawit, kata Lubis. Sedangkan, tambah Lubis, Rustam dan Ansari dipergoki petugas sedang merambah hutan nipah yang ada di lokasi tersebut.

Lubis juga menjelaskan sebelumnya ada pengaduan dari masyarakat Kuala Serapuh bahwa seluas 560 hektare dari hutan mangrove yang ada di kawasan itu telah dirusak dan diubah fungsinya menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

Berdasarkan laporan tersebut, aparat gabungan Pemkab Langkat turun ke lokasi, dan menemukan Pulau Serawak, Pulau Cincang, dan Pulau China, sudah diubah peruntukkannya.

Malah pengusaha yang diduga telah mengubah peruntukkan hutan mangrove tersebut berinitial DA juga sudah beberapa kali diperingatkan untuk segera meninggalkan lokasi. Namun, kenyataannya oknum DA tidak mengindahkan hingga tim SPORC Macan Tutul turun ke lokasi dan menemukan kerusakan hutan, katanya.

“Saat tim gabungan sendiri turun ke lokasi juga ditemukan pembentengan kawasan tersebut mencapai delapan kilometer agar air tidak masuk ke lokasi yang diubah oknum DA,” katanya. (Ant/OL-10)

Defri Werdiono | Marcus Suprihadi | Senin, 16 Januari 2012 | 19:50 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS.com- Banyak tanaman mangrove di pesisir Kalimantan Selatan yang terdegradasi. Penyebab utamanya adalah aktivitas manusia, mulai dari pembangunan pelabuhan khusus batubara, alih fungsi menjadi tambak, maupun dipergunakan untuk bahan bangunan rumah dan kayu bakar.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kalsel Rakhmadi Kurdi di Banjarmasin, Senin (16/1/2012), mengatakan, mangrove yang rusak antara lain berada di Kabupaten Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru.

“Panjang pesisir Kalsel mencapai 450 kilometer. Dari wilayah sepanjang itu terdapat banyak titik mangrove yang terdegradasi,” ujar Rakhmadi.

Sayangnya, ia tidak bisa menyebutkan berapa luas kawasan yang terdegradasi karena masalah itu ditangani oleh dinas teknis masing-masing.

Ia mencontohkan di Pulau Sebuku, salah satu gugusan pulau di daerah Kota Baru, yang ukurannya relatif kecil, pun tak luput dari penjamahan. Di bagian luar mangrovenya masih terlihat bagus. “Namun jika dilihat ke dalam banyak yang rusak,” ucapnya.