Archive for the ‘Fauna’ Category

Oleh : Andhyta Syahputra Panjaitan.
Kabar terjadinya pembantaian Orangutan di Kalimantan terus mendapat sorotan dari media.
Orangutan menemui nasib tragis di desa-desa di Kalimantan, di wilayah Republik Indonesia.
Setidaknya 750 ekor Pongo pygmaeus dibantai setiap tahunnya di Indonesia, survei ini dilakukan
oleh The Nature Conservancy bersama dengan WWF dan Asosiasi Ahli Primata Indonesia serta
beberapa pengamat dan 19 organisasi lainnya.
Kabar memprihatinkan ini kali pertama dimuat dalam pemberitaan harian lokal di Kaltim.
Pembantaian itu diduga berlangsung sekitar tahun 2009-2010 lalu, di Desa Puan Cepak,
Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Kini, pembantaian orangutan bukan hanya isu
Indonesia, tapi juga jadi perhatian dunia. Sejumlah media internasional memberitakan kasus ini.
Seperti diketahui, penyebab kematian orangutan adalah pembantaian yang dilakukan manusia,
terhadap hewan yang hanya dapat melahirkan 4 kali sepanjang hidupnya ini. Pemusnahan
terhadap spesies ini diduga dilakukan oleh warga yang tergiur oleh tawaran uang yang
ditawarkan oleh perusahaan perkebunan dalam kasus pembantaian orangutan dan monyet
diperkebunan tersebut.
Para pelaku mengaku mendapatkan imbalan sejumlah uang setiap melakukan pembantaian,
orangutan diberi upah sebesar Rp 1 Juta sedangkan satu ekor monyet dan bekantan diupahi
sebesar Rp 250 ribu. Saat menagih pembayaran ke perusahaan, para pelaku menyertakan foto
yang menggambarkan berapa banyak orangutan yang ditangkap sebagai bukti.
Pembantaian tersebut dilakukan karena hewan ini dianggap sebagai hama pengganggu usaha
perkebunan kelapa sawit. Hal ini sangat memprihatinkan karena Orangutan merupakan salah satu
hewan yang dilindungi oleh negara bersama satwa langka lainnya menurut UU No. 5 Tahun
1990.
Pihak Mabes Polri bersama Kementerian Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam
(BKSDA) Kalimantan Timur masih terus melakukan penyelidikan untuk menelusuri bukti terkait
pembantaian Orangutan Kalimantan (pongo pygmaeus morio) di Desa Puan Cepak, Kecamatan
Kutai Kartanegara. Dan nantinya para pelaku akan dijerat UU nomor 1990 tentang Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistem pasal 21 ayat a dan b dan pasal 40 ayat 2. Para pelaku terancam
penjara maksimal lima tahun dan denda Rp100 juta.
Pembantaian orangutan di pedalaman hutan Kalimantan menjadi pembicaraan luas. Kementerian
Kehutanan sebagai lembaga yang mengurusi masalah kehutanan menyatakan terbuka atas segala
laporan dari masyarakat. “Bila memang ada pembantaian silakan laporkan. Tapi harus disertai
bukti yang cukup,” ujar Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, usai melakukan pelepasliaran 6
orang utan di Hutan Seruyan, Kalimantan Tengah, Senin (21/11/2011).
Zulkifli menambahkan, laporan yang masuk ke Kemenhut sudah ditindaklanjuti. Sekarang sudah
dalam proses koordinasi antara Kemenhut, Kepolisian, dan pihak terkait lain. Menurut Zulkifli,
pihaknya tidak ragu untuk menangkap orang-orang yang melakukan pembantaian orang utan.
Selain itu, adanya peraturan yang tidak memberikan izin baru di lahan konservasi diharapkan
dapat mengurangi konflik manusia dan orangutan. “Ada peraturan menteri yang saya terbitkan
2010 lalu. Lahan yang masuk kategori lahan konservasi tidak akan kita berikan izin baru
eksploitasi,” imbuhnya.
Lembaga Swadaya Masyarakat Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak Kementerian
Kehutanan dan aparat penegak hukum untuk segera melakukan pengusutan terhadap kasus
pembantaian orangutan. “Kita mendesak kepada Kementerian Kehutanan, untuk melakukan
penegakan hukum terkait dengan pembantaian orangutan yang dianggap sebagai hama di areal
perkebunan-perkebunan kelapa sawit,” kata Juru Kampanye COP, Hardi Baktiantoro.
Hardi mengatakan, pihak yang memiliki wewenang untuk melakukan tindakan hukum kepada
orang-orang yang diduga melakukan pembantaian terhadap satwa yang dilindungi itu adalah
Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Berdasarkan data dari COP, BKSDA Kaltim dan COP telah mengevakuasi sedikitnya empat
orangutan dari Muara Kaman serta dua orangutan lainnya di Muara Wahau pada 26 Juli 2011.
Dalam proses evakuasi tersebut, satu induk orangutan ditemukan mati dan telah dikubur dengan
kondisi memperihatinkan dan banyak bekas pukulan, kedua pergelangan tangan terluka serta
jari-jari yang putus. Sedangkan di Kalimantan Tengah, COP mengidentifikasi satu tengkorak
orangutan dan mengevakuasi tiga anak orangutan yang ditangkap masyarakat.
COP juga menemukan empat tengkorak orangutan lainnya pada 20 Agustus 2011. Puluhan
orangutan dikabarkan telah menjadi bulan-bulanan warga Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara
Ancalong, Kutai Kartanegara, dengan alasan satwa tersebut dianggap sebagai hama yang
merusak dan menggagalkan panen tanaman kelapa sawit. Aksi tersebut diakhiri dengan
memotong kepala satwa itu dan dikabarkan aksi tersebut terjadi di sebuah areal konsesi
perkebunan kelapa sawit. (www.detiknews.com)
Habitat Makin Sempit
Ancaman terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah habitat yang semakin sempit
karena kawasan hutan hujan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa
sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang untuk diambil kayunya. Orangutan telah
kehilangan 80 persen wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Tak jarang mereka
juga dilukai dan bahkan dibunuh oleh para petani dan pemilik lahan karena dianggap sebagai
hama. Jika seekor orangutan betina ditemukan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh
dan anaknya kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal.
Jika hal ini tidak ditanggapi serius oleh pemerintah maka dapat dipastikan suatu saat nanti
orangutan hanya tinggal nama, hal itu dapat terjadi hanya karena ketidak pedulian kita dan
pemerintah RI, sungguh sangat memilukan sekali apabila warisan yang harusnya dapat kita
lestarikan, ternyata harus dibantai demi kelapa sawit dan uang untuk segelintir orang, oknum
pejabat dan pengusaha Malaysia dengan melakukan perbuatan keji membantai orangutan.
Jika nanti dari hasil penyelidikan pihak yang berwenang menunjukkan adanya kebenaran, bahwa
hanya karena dianggap sebagai pengganggu tanaman, sehingga satwa langka yang sesungguhnya
tinggal di rumahnya sendiri harus dimusnahkan, sangat disayangkan. Apakah tidak ada solusi
selain “pembantaian”, jika memang dianggap hama? justru mereka masuk ke lahan karena
ekosistem/habitat mereka yang mulai terusik oleh karena ulah manusia sekali lagi, jika kita
memang mau peduli terhadap warisan, cepatlah bertindak dari sekarang.
Karena keserakahan, manusia modern tidak lagi memikirkan kondisi alam disekitarnya. Mereka
hanya memikirkan diri sendiri, bahkan anak cucunya sendiri (generasi penerus) tidak dihiraukan
nasibnya, dengan mewariskan alam yang telah rusak kepada mereka. Peristiwa ini menunjukkan
keserakahan dan kebobrokan manusia yang hanya memikirkan keuntungan pribadi tanpa
memperdulikan dampak yang terjadi terhadap ekosistem dan lingkungan sekitar. Stop
pembantaian terhadap orangutan dan selamatkan orangutan dari kepunahan. Lindungi dan
lestarikan habitat serta lingkungan hidup orangutan. Dengan demikian akan terjaga kelestarian
hidup orangutan.***

Sumber: Harian Analisa

Advertisements