Archive for the ‘Bibit Adaptasi’ Category

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements
Jakarta
| 14:48 Wed, 28 Dec 2011
Views28
Dananjoyo Kusumo / Jurnal Nasional

Jurnas.com | PERUBAHAN iklim seperti perubahan pola curah hujan, tidak menentunya musim kemarau seringkali menyebabkan kacaunya pola tanam dan aktivitas petani. Hal ini membuat kementerian pertanian membuat program penanaman dengan meluncurkan kalender tanam 2012.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian Haryono mengatakan dampak perubahan iklim sangat signifikan terhadap produksi pertanian bahkan gagal panen karena meningkatkan ancaman kekeringan, banjir dan organisme pengganggu tanaman (OPT). “Oleh karena itu kami menerbitkan kalender tanam yang selengkapnya dengan data terbaru,” kata dia saat Peluncuran Kalender Tanam di Jakarta, Rabu (28/12).

Menurutnya, kalender tanam ini akan diperbaiki tiap musim dan diperbarui tiap dua bulan sekali dengan data terbaru dan kecocokan unsur hara dari tiap propinsi di Indonesia. “Kalender tanam ini memberikan informasi yang lengkap bagi petani. Panduan operasional tersebut ditetapkan pada level masyarakat, dan kecamatan,” katanya.

Namun sayang, kata dia, karena tiap dua bulan diperbaiki, maka kalender tanam ini tidak bisa di print out dan hanya akan di tampilkan di website kementan saja. “Ini bisa diakses melalui website saja karena biaya akan sangat mahal jika dalam bentuk flyer atau hard copy mengingat tiap 2 bulan diperbaiki,” katanya.

Ia menambahkan kalender tanam ini lebih diperuntukkan untuk para penyuluh pertanian dan pemangku kebijakan di daerah mengingat petani banyak yang belum mengenal dunia internet. Namun tidak menutup kemungkinan bagi petani yang telah melek teknologi untuk melihat langsung ke website kementan. “Idealnya lebih ke bahasa petani, nantinya penyuluh pertanian yang bertugas menyampaikan kepada petani mengenai cara tanam sesuai ciri khas tanah di daerah tersebut,” katanya.

Ia berharap, kalender tanam ini bisa diterapkan dalam waktu dekat ini dengan pengawalan ketat dari kementerian pertanian. “Peneliti harus jadi satu dengan penyuluh dan petani, penerapannya nanti kita pantau, tiap propinsi kabupaten, bisa di cek, kami jamin agar peran penyuluh bekerja dengan baik,” kata dia.

Peneliti Balitbang Kementerian Pertanian Eleonora Runtunuwu memaparkan kalender tanam tahun ini juga dibuat berdasarkan prediksi BMKG. Di dalamnya terdapat rekomendasi mengenai kebutuhan benih, pupuk, dan daftar wilayah pertanian yang rawan bencana. “Kalender tersebut sudah tersedia pada 6.501 kecamatan, 467 kabupaten, 33 provinsi, tujuh koridor di Nusantara,” katanya.

Penulis: Tria Dianti
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Selasa, 20 Desember 2011 | 15:31 WIB
Share:
 KOMPAS/SIWI NURBIAJANTI Ilustrasi

QUEENSLAND, KOMPAS.com – Ilmuwan dari Universitas Queensland menemukan varietas padi dengan gen yang potensial mempertahankan padi dari resiko perubahan iklim. Penemuan ini dipublikasikan di Proceeding of the National Academy of Sciences.

Berdasarkan penemuan tersebut, diketahui bahwa varietas padi yang tumbuh liar di wilayah Australia yang lebih panas dan kering-lah yang lebih beragam dan potensial survive menghadapi perubahan iklim.

Professor Robert Henry dari Univeritas Aliansi Pertanian dan Inovasi Pangan Queensland yang terlibat penelitian mengatakan bahwa hasil riset ini punya implikasi besar.

“Penemuan ini bisa berguna untuk menyeleksi varietas padi yang bisa menghadapi beragam variabel dan perubahan iklim,” kata Henry seperti dikutip Physorg, Senin (19/12/2011).

Salah satu gen yang membuat padi bisa tahan adalah gen resisten terhadap serangan bakteri dan jamur patogen saat stress. Iklim yang berubah memicu stress yang membuat tanaman lebih lemah jika diserang.

Studi yang dilakukan Henry dilakukan di wilayah terpencil, melibatkan pula Soouthern Cross University. Studi dilakukan dengan membandingkan padi di Australia dengan di Fertile Crecent, wilayah di Mesir.

Penelitian ini merupakan upaya pertama untuk mempelajari variasi genetik padi liar dengan analisis DNA