Target Redam Pemanasan Global Makin Jauh dari Jangkauan

Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/11/26/89852/target_redam_pemanasan_global_makin_jauh_dari_jangkauan/#.ULLMY-RfF_4

SASARAN meredam pemanasan global makin jauh dari jangkauan, tegas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam serangkaian laporan terbaru yang memperingatkan tentang ancaman bencana iklim menjelang pembicaraan penting di Qatar.

Ikrar negara-negara saat ini untuk mengurangi emisi gas rumahkaca pengubah iklim ternyata tidak dipenuhi, terbukti suhu udara global naik tiga hingga lima derajat Celsius pada abad ini, ungkap sebuah laporan UN Environment Program (Program Lingkungan PBB).

Batas yang ditargetkan adalah kenaikan dua derajat Celsius pada level pra-industri.

Dalam empat hari terakhir, World Meteorological Organisation melaporkan kenaikan gas-gas pemanas Bumi yang mencapai rekor di atmosfer, sementara Bank Dunia memperingatkan kehancuran di seluruh planet ini jika sampai terjadi kenaikan empat derajat Celsius.

UNEP menegaskan tindakan segera masih dapat membuat dunia kembali ke jejaknya, tapi itu mesti melibatkan peningkatan ikrar dan pengurangan emisi sebesar 14 persen jadi sekira 44 miliar ton pada 2020 dari sekira 50,1 miliar ton per tahun dewasa ini.

“Pesan itu nyata benar merupakan salah satu hal sangat mengejutkan dan memprihatinkan tentang keberadaan kita nantinya,” ungkap pemimpin UNEP Achim Steiner.

Para ilmuwan mengatakan temperatur global telah naik rata-rata sekira 0,8 derajat Celsius.

Planet ini telah menyaksikan suhu udara yang mencatat rekor baru dalam sedekade terakhir dan seringnya bencana alam yang dipersalahkan sebagian pihak pada perubahan iklim — bencana terbarunya adalah badai super Sandy, yang menghajar Haiti dan Pantai Timur AS.

Bendera Merah

Kalangan pengamat dan perunding iklim yang sedang mempersiapkan pembicaraan PBB yang dibuka di Doha pada Senin depan menilai laporan UNEP sebagai bendera merah yang tepat waktunya.

“Waktunya kini semakin mepet,” ungkap kepala badan perikliman PBB Christiana Figueres, “tapi sarana teknis dan alat kebijakan untuk memungkinkan dunia tetap berada di bawah suhu maksimum dua derajat Celsius masih dimiliki para pemerintah dan masyarakat”.

Komisioner urusan iklim Eropa Connie Hedegaard mengemukakan data tadi menunjukkan “dunia tidak kompak untuk bertindak cukup cepat”.

“Kendati adanya fakta-fakta dan bukti itu di depan kita, masih banyak pihak enggan berbuat sesuatu… atau melupakan krisis iklim itu sampai kita bisa memecahkan krisis ekonomi.”

Lebih 190 negara akan bertemu selama dua pekan di Qatar dalam upaya menyusun sebuah program kerja untuk menyetujui sebuah perjanjian iklim baru dan global yang diharapkan diteken pada 2015 dan diberlakukan pada 2020.

Mereka juga akan berupaya menerapkan fase lanjutan bagi Kyoto Protocol yang mengikat negara-negara kaya dengan penurunan emisi gas rumahkaca namun berakhir masa berlakukan pada 31 Desember.

UNEP mengatakan konsentrasi gas-gas pemicu panas seperti karbon dioksida (CO2) di atmosfer telah naik sekira 20 persen sejak 2000 lalu, mengalami kenaikan setelah sempat turun selama krisis ekonomi 2008-2009.

Jika tindakan tidak segera diambil maka emisi gas kemungkinan akan mencapai 58 gigatone pada 2020 mendatang.

“Semakin sikap negara-negara melaksanakan apa-apa yang mereka telah janjikan maka situasinya akan tambah baik. Namun sekalipun jika mereka melaksanakan semua yang telah diikrarkan, itu masih belum cukup jika anda ingin bertahan pada jejak dua derajat Celsius,” tandas pakar UNEP John Christensen.

Wael Hmaiden, direktur NGO Climate Action Network, mengatakan data itu “menunjukkan kepada kita betapa mendesaknya kita memiliki rencana aksi yang jelas untuk disetujui di Doha pada ambisi mitigasi pra-2020”.

Dan Alden Meyer dari Union of Concerned Scientists mengemukakan: “Tanpa ada tindakan lebih agresif lagi maka kita akan kalah perjuangan menjaga kenaikan suhu udara tetap berada di bawah dua derajat dan mencegah berbagai dampak terburuk dari perubahan iklim.”

Dalam sebuah laporan pada 18 Nopember lalu, Bank Dunia mengemukakan kenaikan suhu udara sebesar empat derajat Celsius bisa menimbulkan berbagai efek menghancurkan terhadap produksi pangan dan penyebabaran penyakit, dengan bertambahnya gelombang udara panas dan banjir serta naiknya level air laut yang membanjiri area-area tepi pantai dan pulau-pulau kecil.

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: