Pembangunan Karbon Rendah Adalah Pilihan Tiongkok

Sumber: http://indonesian.cri.cn/201/2012/11/23/1s133251.htm

Menjelang penyelenggaraan Konferensi PBB di Doha tentang perubahan iklim pada 26 November, pemerintah Tiongkok lalu meluncurkan laporan tahunan tentang kebijakan Tiongkok dalam menanggapi perubahan iklim. Dalam laporan ini diulas kebijakan dan langkah yang diambil Tiongkok untuk meredakan dan menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Wakil Ketua Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional Tiongkok Xie Zhenhua menyatakan, Tiongkok akan berupaya mengontrol emisi karbondioksida dan gas emisi, namun adalah tidak adil dan tidak rasional jika Tiongkok dituntut mengurangi emisi secara mutlak pada tahap sekarang. Xia Zhenhua menyatakan, dalam Perundingan Doha, strategi Tiongkok tidak akan mengalami perubahan.

Xie Zhenhua mengatakan, pilihan Tiongkok untuk mewujudkan perkembangan ilmiah dan berkelanjutan sesuai kondisi negara adalah dengan pembangunan hijau, pembangunan rendah karbon, dan pembangunan sirkular.

“Kondisi negara Tiongkok adalah berpenduduk banyak, namun dengan sumber yang relatif kurang. Volume kepemilikan per kapita Tiongkok terhadap sumber utama yang mendukung pembangunan ekonomi tidak sampai separuh dari rata-rata dunia. Kapasitas lingkungan Tiongkok terbatas, ekologi masih lemah. Saat ini masyarakat menyatakan tidak puas terhadap lingkungan sekarang. Masalah sumber daya, energi dan lingkungan sudah menghambat perkembangan Tiongkok. Tiongkok tidak punya pilihan selain kecuali meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya dan efisiensi pemanfaatan energi melalui pembangunan hijau, pembangunan rendah karbon, dan pembangunan sirkular, sekaligus mengembangkan energi baru dan pada akhirnya mewujudkan target pembangunan masyarakat sejahtera dan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, satu-satunya pilihan bagi Tiongkok adalah pembangunan hijau dan pembangunan rendah karbon.”

Volume emisi karbondioksida di Tiongkok masih tinggi. Mengenai hal itu, Xie Zhenhua menyatakan, Tiongkok memang menghadapi tantangan yang amat besar, namun ini merupakan persoalan yang harus dihadapi dalam pembangunan.

Xie Zhenhua menyatakan, masalah yang akan diselesaikan dalam konferensi Doha tahun ini mengekspresikan “tanggung jawab sama, kewajiban berbeda” dalam kerangka konvensi, negara-negara maju perlu terlebih dahulu mengurangi emisi dalam skala besar. Sementara itu, negara-negara berkembang perlu aktif beraksi untuk menanggapi perubahan iklim sesuai dengan tuntutan konvensi dan protokol serta mendapat dukungan dana dan teknik dari negara-negara maju. Xie Zhenhua mengatakan, Tiongkok sudah berkomitmen dan mengambil langkah tanpa mendapat dukungan dana dan teknik dari negar-negara maju.

“Tiongkok sudah berjanji dan mengambil langkah untuk menurunkan 40 hingga 45 persen emisi karbon pada tahun 2020 dari emisi tahun 2005. Selama Repelita ke-11, Tiongkok telah menurunkan 20 persen. Selama Repelita ke-12, Tiongkok akan menurunkan 17 persen. Mengenai kapan Tiongkok memikul kewajiban pengurangan emisi yang mempunyai daya hukum, inilah persoalan yang perlu dirundingkan dan diselesaikan dalam konferensi Doha.”

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: