Pengembangan Kota Hijau untuk Mengantisipasi Perubahan Iklim

Sumber: http://www.beritasatu.com/sains/80671-pengembangan-kota-hijau-untuk-mengantisipasi-perubahan-iklim.html

Kota hijau harus menyediakan tanah 5000 m2 di tengah kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota dengan konsep pembangunan “totally green park”. 

Pakar tata kota Nirwono Joga mengatakan, pengembangan kota hijau merupakan salah satu upaya dalam mengantisipasi, adaptasi, dan mitigasi perubahan iklim.

“Kota hijau merupakan tindakan antisipasi mitigasi terhadap perubahan iklim, karena 70 persen kota-kota di Indonesia di kawasan pesisir rentan terhadap dampak “climate change”,” kata Nirwono Joga seusai konferensi pers Green City for a Better Life, di Jakarta, Rabu (31/10).

Menurut dia, pembangunan kota hijau harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terus berupaya mengembangkan teori urban yang baru demi terciptanya kota hijau.

“Ada tiga prinsip dalam pembangunan kota hijau yaitu pembangunan berkelanjutan yang mendorong keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujar dia.

Kedua, kata dia, pembangunan kota hijau harus mandiri. Kota hijau harus mampu mandiri secara finansial, mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Ketiga, yaitu konsep beragam. Ada delapan atribut kota hijau yang meliputi perencanaan dan perancangan kota ramah lingkungan (green planning and design), ruang terbuka hijau (green open space), konsumsi energi yang efisien (green energy).

“Pengelolaan air (green water), pengelolaan limbah dengan prinsip 3R (green waste), bangunan hemat energi (green building), penerapan sistem transportasi yang berkelanjutan (green transportation), dan peningkatan peran masyarakat sebagai komunitas hijau (green community),” ujar dia.

Ia mengatakan kedelapan atribut kota hijau disesuaikan dengan potensi kemampuan 60 kota peserta kota hijau karena tiap daerah memiliki potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

“Misalnya ada beberapa kota seperti Bogor, Sukoharjo, Solo, Batam, dan Bukittingi yang ingin melakukan penerapan sistem transportasi yang berkelanjutan (green transportation),” ujar dia.

Ia menambahkan peserta kota hijau harus menyediakan tanah 5000 m2 di tengah kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota dengan konsep pembangunan “totally green park”.

“Kenapa tiap kota minimal 5000 m2 karena secara teknis dari segi ekologis, suatu lahan 5 ribu meter dari suatu kawasan akan mempunyai nilai ekologis seperti daya serap airnya dan mendatangkan satwa liar, selain nilai ekonomis dan sosial,” kata dia.

Menurut dia, dengan peningkatan peran masyarakat sebagai komunitas hijau dapat mewujudkan kota hijau yaitu ruang yang aman, nyaman, serta produktif.

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: