Sekitar 1.200 Hektare Hutan Bakau di Sumut Diselamatkan Nelayan

 

 

Sumber: http://www.seruu.com/kota/regional/artikel/sekitar-1200-hektare-hutan-bakau-di-sumut-diselamatkan-nelayan

Hutan Bakau (Istimewa)

Jakarta, Seruu.com – LSM Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Region Sumatera mengatakan, nelayan telah menyelamatkan hingga sekitar 1.200 hektare hutan bakau di Sumatera Utara.

Siaran pers bersama Kiara-KNTI yang diterima di Jakarta, Senin, menyebutkan, para nelayan di Desa Lubuk Kertang, Pangkalan Berandan, Langkan, Sumatera Utara, mengambil alih lahan mangrove atau hutan bakau seluas 1.200 hektare yang sebelumnya dikuasai sejumlah pelaku perkebunan sawit.

Sebagai tahap awal, menurut LSM tersebut, masyarakat akan mengupayakan hutan konservasi pesisir seluas 300 hektar karena kondisi kawasan itu sudah hancur karena pengusaha sawit menebang bakau.

Tak hanya merusak hutan bakau, pemilik perusahaan sawit juga melarang para nelayan berkegiatan di wilayah tangkapnya sendiri sehingga nelayan mengandalkan tangkapannya di paluh-paluh (anak sungai).

Dalam proses pengambilalihan, para nelayan berjuang bahu membahu dengan segala daya upaya untuk penyelamatan secara bertahap, antara lain dengan menanami kembali bakau guna dijadikan hutan konservasi. Upaya ini sudah berlangsung dua kali.

“Rencana pengembangan kawasan konservasi mangrove seluas 300 hektar adalah niat kami para nelayan,” kata Presidium KNTI Region Sumatera Tajruddin Hasibuan.

Menurut Tajruddin, pentingnya peran ekosistem hutan bakau membuat nelayan menjaga konsistensi perjuangan melawan ancaman ekspansi perkebunan sawit hingga sekarang.

Ia memaparkan, di Desa Lubuk Kertang ada sekitar 2.000 hektare hutan bakau yang telah dialihfungsikan sejak tahun 1990-an, dan sejak itu terjadi penurunan signifikan pada hasil tangkapan nelayan.

Koordinator Manajemen Pengetahuan Kiara, Mida Saragih mengemukakan, tatkala kondisi lingkungan pesisir hancur dan perekonomian nelayan memburuk, respon perdebatan iklim di kancah negosiasi internasional malah berputar-putar pada pendanaan dan berkutat pada solusi rumit seperti halnya pasar karbon.

“Proposal pemerintah dalam negosiasi internasional untuk perubahan iklim dan keanekaragaman hayati hendaknya beranjak merangkul inisiatif lokal, serta perlu memasukkan catatan penting urgensi perbaikan kerusakan pesisir di bawah kerangka mitigasi dan adaptasi,” kata Mida Saragih.

Menurut dia, tidak hanya di pesisir Langkat, persoalan serupa juga terjadi di kawasan pesisir lainya antara lain karena persoalan iklim erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan kesehatan ekosistem.

Sementara itu, Manajer Pendidikan dan Penggalangan Dukungan Publik Kiara, Selamet Daroyni menegaskan, inisiatif nelayan menjaga lingkungannya perlu mendapat dukungan dari banyak pihak.

“Meningkatnya hasil tangkapan ikan akan membantu terpenuhinya kebutuhan protein masyarakat setempat,” kata Selamet Daroyni.[ant]

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: