Masyarakat Tangguh Dideklarasikan

Sumber: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=30643

Padangpariaman, Padek—Gerard Foley dalam bukunya Global Warming Who is Taking The Heart?(1991) telah memberikan nilai-nilai kontemplatif bagai­ma­na kita memandang bumi dari ben­cana perubahan iklim. Kini, pe­ma­nasan global telah menjadi isu pen­ting di negara-negara ber­kembang dan menjadi konsensus bagi pe­mim­pin di seluruh dunia.

Sejak tahun 1979, PBB ber­sama organisasi internasional lainnya telah mengadakan kon­fe­rensi pertama di dunia mengenai peru­bahan iklim, termasuk Earth Summit tahun 1992 di Rio de Jenairo yang kemudian dilan­jutkan dengan Protokol Kyoto tahun 1997, yang mengatur secara rinci negara-negara maju untuk menurunkan emisinya apalagi emisi gas rumah kaca pada lahan pertanian.

Tetapi tahun 2012 ini, Pro­to­kol Kyoto akan berakhir. Jauh di suatu tempat bernama kampung Du­rian­siamih, Korong Li­mo­hindu, Ke­na­garian Batukalang, Ke­camatan Padangsago, Ka­bu­paten Pa­da­ng­pariaman yang bara­ng­kali PBB tidak pernah men­dengarnya, bah­wa ratusan petani dari 20 nagari se-Kabupaten Padangpariaman dengan penuh semangat mengikuti “Jambore Masyarakat Tangguh Bencana Dan Perubahan Iklim” dengan berbagai pelatihan yang digelar 18-20 Juni 2012 oleh petani pemandu bekerja sama dengan Yayasan Farmer Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (FIELD) Indonesia, melalui program FIELD-Bumi Ceria dan du­kungan lembaga ban­tuan pem­bangunan inter­nasional Ame­rika Serikat, USAID.

Di sana, petani-petani itu juga mendeklarasikan Persatuan Peta­ni Pemandu dan Masyarakat Tang­guh Bencana serta Peru­ba­han Iklim (P3MTBPI). Deklarasi tersebut se­cara umum bertujuan untuk men­dukung hasil-hasil pelatihan dan rekomendasi jam­bore serta peru­bahan iklim yang terjadi di Ka­bu­paten Padang Pariaman.

Bersama FIELD-Bumi Ceria, mereka dibekali pengetahuan dan penguatan terhadap dampak ben­cana dan perubahan iklim melalui pelatihan paralel yang mencakup tentang ketangguhan petani ter­hadap perubahan iklim, inovasi-inovasi dalam pengurangan risiko bencana termasuk bagaimana membangun jaringan dan ker­jasama dengan berbagai pihak.

Fenomena hujan sepanjang ta­hun belum pernah terjadi, tetapi saat ini sudah menjadi kek­ha­watiran petani-petani di daerah. “Di tahun 2010 kita mengalami musim penghujan sepanjang tahun. Tahun berikutnya, berkem­ba­ng fenomena ulat bulu,” kata Arif Lukman Ha­kim, ahli peru­bahan iklim dari FIELD Indonesia.

Untuk menyiasati perubahan iklim, Nurlis, 60, petani di Ko­rong Kam­puang Pili Kenagarian Kudu­gan­tiang, Kecamatan V Koto Ti­mur, Kabupaten Padang­paria­man bertanam terung, bawang, cabai rawit, tebu, ubi dan tana­man-tanaman sayuran. “Di sini ta­nahnya cukup gembur dan subur,” katanya.

Nurlis mulai memanfaatkan halamannya bertanam pangan sejak terlibat dalam sekolah lapa­ngan lumbung pangan hidup yang digelar oleh FIELD-Bumi Ceria. “Sekolah lapangan membantu saya untuk memahami bagai­ma­na me­man­faatkan lahan yang selama ini menganggur,” katanya.

Bencana bisa datang kapan saja, dan Nurlis harus tetap sia­ga. ”Lumbung pangan yang ada di sekitar rumah menjadi andalan kalau bencana datang.  Sekaligus membantu menyerap karbon dari udara,” tambah Sartika, 23, anak Nurlis yang juga mengikuti se­kolah lapangan.

Di Korong Tobohmarunggai, Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Timur Kampung Dalam, Norma, 43, juga telah melakukan pem­bi­bitan tanaman multiguna dengan lahan seluas 900 meter persegi, di antaranya kakao, trem­besi, sengon, petai, pala, durian, dan nangka. “Pembibitan ini di­tan­am di wilayah rawan longsor atas swadaya ke­lom­pok,” ujar Norma. Nagari Sikucur merupa­kan sa­lah satu nagari yang rentan ter­hadap longsor.  (nia)

Wilayah hulu Ba­tang Naras ini memang ber­to­pografi berbukit, bergelombang dan memiliki curah hujan yang tinggi. “Biasanya kalau kami lihat semut naik ke dataran tinggi, berarti masuk musim penghujan. Begitu juga sebaliknya,” ungkap Supelman yang kerap mengamati perubahan iklim di Kenagarian Sikucur secara alami.

Kepala Balai Penelitian Ling­ku­ngan Pertanian dari Kemen­te­rian Pertanian Prihasto Styanto me­ngatakan, untuk menyikapi peru­bahan iklim, Kementerian Per­tanian di bawah pengawasan Dewan Nasional Perubahan Ik­lim (DNPI) telah membentuk tim teknis perubahan iklim yang kemudian mewujudkan suatu kebijakan dengan merealisasikan Kalender Tanam Terpadu, di mana tim tersebut bekerjasama dengan BMKG untuk terjun lang­sung hingga ke tingkat ke­ca­matan guna meneliti kearifan lo­kal dikaitkan dengan perubahan iklim di masing-masing tempat. Kalender tanam adalah peta yang menggambarkan potensi pola waktu tanam untuk tanaman pangan, terutama padi, berdasarkan potensi dan dinamika sumberdaya iklim dan air.

Ditinjau dari rentang waktu, perubahan iklim memiliki rentang waktu yang lebih panjang ketimbang variabelitas iklim sehingga perlunya kalender yang mengatur kapan bercocok tanam yang tepat. “Presiden SBY sudah berangkat ke Rio De Jenairo untuk mengikuti KTT Bumi. Di sana, presiden akan menampilkan Kalender Tanam Terpadu ini,” lanjut Prihasto.

Petani sudah punya sistem bertani sendiri, tetapi masalahnya dianggap tidak ilmiah. Dengan adanya program FIELD-Bumi Ceria, indikator-indikator tersebut diharapkan dapat mengantisipasi dan mempelajari kearifan lokal yang ada di daerah-daerah.

Menurut penelitian, kata Nugraha Wienarto dari penasehat senior FIELD Indonesia, wereng bukanlah hama. Penggunaan injeksi pestisida untuk mengatasi perubahan iklim menyebabkan wereng kebal terhadap penyakit. Itulah salah satu penyebab petani-petani menjadi resah. “Kita berharap indikator-indikator kearifan lokal dan Kalender Tanam Terpadu menjadi perhatian penting kita guna mengurangi risiko bencana serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim kepada masyarakat luas.” katanya. (nia)

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: