Jikalahari Minta Menhut Hentikan IUPHHK-RE untuk Perusahaan

Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/26/59101/jikalahari_minta_menhut_hentikan_iuphhkre_untuk_perusahaan/#.T-mM0xce5_4

Pekanbaru, (Analisa). Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) meminta Menteri Kehutanan (Mehut) menghentikan proses Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) untuk PT Gemilang Citra Nusantara (GCN).

Karena hal itu akan tumpang tindih dengan Hutan Desa di tiga desa Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan, Riau seluas 8.000 hektare dari 19.674 hektare luas yang diusulkan PT GCN untuk IUPHHK-RE.

“Kalau itu Hutan Desa, sebaiknya pengelolaannya diserahkan ke pihak desa. Jadi kalau itu untung, yang untung, jelas masyarakat tempatan bukan pihak perusahaan,” tukas Koordinator Jikalhari, Muslim kepada wartawan, Senin (25/6).

Saat ini, imbuhnya, PT GCN tengah mengurus IUPHHK-RE seluas 19.674 hektare di tiga desa di Kecamatan Teluk Meranti, seperti Desa Segamai, Serapung dan Pulau Muda.

“Kami meminta kepada Menteri Kehutanan menghentikan proses IUPHHK-RE PT GCN dan komit mempertahankan SK 4234 untuk Hutan Desa yang telah dicadangkan. Bahwa SK 4234 sebuah inisiatif dan solusi cukup tepat untuk konflik Semenanjung Kampar dengan memberikan ruang kelola pada masyarakat,” tegas Muslim.

Terlepas soal itu, warga Desa Pulau Muda dan Desa Teluk Meranti mendesak kepada Bupati Pelalawan M Harris mencabut Rekomendasi IUPHHK-RE untuk REDD+ PT GCN dan mengabulkan usulan pencadangan Hutan Desa untuk Desa Pulau Muda seluas 9.600 ha dan Desa Teluk Meranti seluas 2.300 ha yang pernah diajukan pada Mei 2012 lalu.

“Pencadangan Hutan Desa, untuk saat ini satu-satunya yang bisa kami andalkan untuk ekonomi masyarakat karena bertani merupakan mata pencaharian utama warga desa,” kata Abdul Haris, warga Pulau Muda.

Ramuddin Suhara warga Desa Teluk Meranti juga utarakan yang sama denga Abdul Haris. Menurutnya, masyarakat secara garis besar belum punya hak kelola hutan. Sehingga masyarakat sering jadi kambing hitam, dibilang perusak hutan. “Kami berharap ada hak dan tanggung jawab kelola hutan,” imbuh Ramuddin. (dw)

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: