Sikapi Perubahan Iklim dengan Tanam Terpadu

Sumber: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=30495

Padangpariaman, Padek—Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Kementerian Pertanian, Prihasto Styanto mengatakan, untuk menyikapi perubahan iklim, Kementerian Pertanian di bawah pengawasan Dewan Na­sional Perubahan Iklim (DNPI) telah mem­bentuk tim teknis perubahan iklim yang diwujudkan sebagai suatu kebijakan dengan merealisasikan kalender tanam terpadu.

Dalam pelaksanaannya, tim bekerja sama dengan BMKG untuk turun langsung ke tingkat kecamatan guna meneliti kearifan lokal yang dikaitkan dengan perubahan iklim di masing-masing tempat.

Menurutnya, Protokol Kyo­­to yang membahas me­nge­nai pertanian hanya berlaku sampai tahun 2012 ini. Karena itu, kebijakan mengenai ka­lender tanam terpadu ini me­merlukan kerja sama yang lebih intens bersama dinas-dinas di daerah.

“Hari ini Presiden SBY berangkat ke Rio De Jenairo untuk mengikuti KTT Bumi. Di sana, presiden akan me­nam­pilkan kalender tanam terpadu ini,” ujar Prihasto di hadapan ratusan petani dari 20 nagari se-Kabupaten Padang­paria­man yang mengikuti pelatihan dalam kegiatan “Jambore Ma­syarakat Tangguh Bencana dan Perubahan Iklim” yang digelar Persatuan Petani Pe­mandu bersama Field-Bumi Ceria selama tiga hari sejak Senin (18/6) sampai Rabu (20/6) di kampung Durian Siamih, Korong Limohindu, Kenagarian Batukalang, Ke­camatan Padangsago, Ka­bu­paten Padangpariaman.

Ahli Perubahan Iklim dari FIELD Bumi Ceria, Arif Luk­man Hakim mengatakan, fe­nomena-fenomena dari peru­bahan iklim yang terjadi be­berapa tahun terakhir mem­bawa dampak signifikan pada produktivitas hasil pertanian, dan itu harus disikapi sece­patnya. Misalnya, fenomena hujan sepanjang tahun belum pernah terjadi, tetapi ini sudah menjadi kekhawatiran petani-petani di daerah.

“Di tahun 2010 kita me­ngalami musim hujan se­pan­jang tahun, tahun berikutnya, berkembang fenomena ulat bulu,” ujar Arif mencontohkan fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Kata Arif, sebenarnya, pe­tani sudah punya sistem ber­tani sendiri, tetapi masalahnya dianggap tidak ilmiah. Dengan adanya program ini, diha­rap­kan dapat mengantisipasi dan mempelajari kearifan lokal untuk dilakukan diskusi-dis­kusi dan mencarikan solusi terkait kearifan lokal ini.

Penasihat senior Field, Nugraha Wienarto me­ng­a­takan, dari hasil penelitian penggunaan insektisida me­nye­babkan wereng kebal ter­hadap penyakit sehingga men­jadi keresahan petani-petani terutama petani di Jawa. Saat ini, Kementerian Pertanian fokus terhadap mitigasi dan adaptasi di bidang pertanian terkait perubahan iklim.

“Kita berharap indikator-indikator kearifan lokal dan kelemahan dari kalender ta­nam terpadu menjadi pem­bahasan lebih lanjut dalam pertemuan ini,” ujarnya.

Kegiatan “Jambore Ma­sya­rakat Tangguh Bencana Dan Perubahan Iklim” ini sebe­lum­nya didahului dengan deklarasi progam Persatuan Petani Pe­mandu dan Ma­sya­rakat Ben­cana (P3MB) dan Perubahan Iklim oleh Per­satuan Petani Pemandu dan Masyarakat Tang­guh Bencana ser­ta Perubahan Iklim (P3M­TBPI).

Menurut Koordinator Umum P3MTBPI Indramedi, visi program ini untuk mem­bangun ketangguhan ma­sya­rakat dari bencana alam dan perubahan iklim. Petani dan masyarakat dilatih beradaptasi dan memitigasi bencana dan perubahan iklim, menjalin kerja sama dengan organisasi ke­masyarakatan lain guna me­ningkatkan kemandirian dan kedaulatan petani serta me­ning­katkan rasa sosial ma­syarakat melalui kegiatan-kegiatan yang disesuaikan dengan per­ke­m­bangan yang terjadi di tengah masya­ra­kat.(nia)

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: