Ilmuwan Temukan Pemanasan Kuno di Antartika

Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/06/18/95237/Ilmuwan-Temukan-Pemanasan-Kuno-di-Antartika/11

Para ilmuwan menemukan, suhu musim panas di sepanjang pantai Antartika 15 hingga 20 tahun lalu adalah 20 derajat Fahrenheit (11 derajat Celcius), lebih hangat daripada suhu saat ini yang mencapai 14 derajat Fahrenheit (7 derajat Celcius). Tingkat curah hujan pun menjadi beberapa kali lebih tinggi daripada saat ini.

Fakta itu ditemukan tim gabungan yang dipimpin ilmuwan Sarah J. Feakins dari University of Southern California dan peneliti dari Jet Propulsion Laboratory Nasa di Pasadena, Calif and Lousiana State University di Baton Rouge.

“Tujuan utama penelitian ditujukan untuk pemahaman yang lebih baik tentang seperti apa perubahan iklim di masa mendatang,” ujar Feakins, asiten profesor ilmu bumi di USC Dornsife College of Letters, Arts, and Sciences.

“Sama seperti sejarah yang mengajarkan kita tentang masa depan, begitu juga iklim masa lampau. Rekaman penelitian itu menunjukkan seberapa panas dan basah di sekeliling lapisan es Antartika sebagai sistem pemanas iklim. Ini merupakan bukti pertama mengenai seberapa panas iklim di sana dulu,” tambahnya.

Ilmuwan mulai curiga bahwa lintang tinggi temperatur sepanjang zaman miocene lebih hangat daripada sebelumnya. Sophie Warny, salah satu anggota peneliti meyakini, ia menemukan kuantitas besar serbuk sari dan ganggang di batuan sedimen yang diambil di sekitar Antartika. Fosil kehidupan tumbuhan di Antartika sangat sulit didapat karena pergerakan lapisan es yang sangat kuat sehingga melindas dan mengikis daratan yang bisa digunakan sebagai pembuktian penelitian mereka.

“Pusat sedimen laut sangat ideal untuk dijadikan petunjuk mengenai vegetasi masa lampau, seperti endapan fosil yang terlindungi dari gerakan lapisan es. Namun secara teknis sulit untuk memperoleh itu di Antartika dan penelitian membutuhkan kolaborasi internasional,” ujar Warny.

Megambil informasi dari serbuk sari kecil, Feakins memilih untuk melihat lapisan lilin yang diambil dari  bagian tengah daun. Lapisan lilin daun menunjukkan perubahan iklim melalui pengumpulan data rasio isotop hidrogen dari air yang diambil tanaman selama ia hidup.

“Bagian tengah es hanya dapat kembali sekitar satu juta tahun. Inti sedimen memungkinkan kita menyelami kedalaman waktu,” ujar Feakins.

Berdasarkan model origin yang dikembangkan untuk menganalisa rasio isotop hidrogen dalam data atmosfer uap air dari data Aura Spacecraft NASA, Ilmuwan JPL Jung-Eun Lee melakukan eksperimen untuk menmukan seberapa pandan dan basah iklim yang mungkin terjadi.

“Ketika planet memanas, perubahan besar terlihat pada kutub. Pergerakan hujan ke arah selatan berhubungan dengan iklim panas pada lintang tinggi belahan bumi bagian selatan yang membuat margin Antartika tak terlalu seperti kutub gurun, dan lebih seperti Islandia di masa kini,” ujar Lee.

Puncak dari penghijauan Antartika terjadi sepanjang pertengahan zaman Miocene, antara 16,4 juta dan 15,7 juta tahun lalu. Ini terjadi setelah masa dinosaurus muncul sekitar 64 juta tahun lalu. Sepanjang zaman Miocene, hampir semua hewan yang terlihat modern berkeliaran di bumi, seperti kuda berkaki tiga, rusa, unta, dan berbagai spesies kera. Manusia modern tidak terlihat hingga 200 ribu tahun lalu.

Kondisi hangat sepanjang zaman tersebut diasumsikan berasosiasi dengan tingkat karbondioksida sekitar 400 hingga 600 ppm. Tahun 2012, tingkat karbondioksida menanjak hingga 393 ppm, ini merupakan catatan tertinggi yang mereka temukan beberapa juta tahun lalu. Dari peningkatan karbondioksida, tingkat atmosperik karbondioksida sedang menuju ke tingkatakan pertengahan zaman Miocene di akhir abad ini.

Level tinggi karbondioksida sepanjang zaman Miocene telah didokumentasikan dalam studi lain yang menyajikan banyak bukti, termasuk beberapa pori-pori permukaan tanaman daun dan bukti geokimia dari tanah dan organisme laut. Sementara itu, tidak ada satupun proxi yang dapat diandalkan seperti gelembung-gelembung  gas yang terperangkap di inti es. Inilah yang merupakan bukti terbaik.

Sementara ilmuwan belum mengetahui dengan pasti mengapa karbondioksida berada pada level itu sepanjang zaman Miocene, karbondioksida tinggi, bersamaan dengan pemanasan global yang didata dari berbagai bagian di dunia, dan sekarang juga diteliti di wilayah Antartika, mucul sepanjang periode dalam sejarah bumi.

Penelitian ini dibiayai oleh U.S. National Science Foundation dengan dukungan tambahan dari NASA. Sedangkan The California Institute of Technology di Pasadena bertugas mengatur JPL dari NASA.

Penelitian ini sudah diterbitkan secara online di Nature Geoscience.(dailyscience/***)

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: