Dampak Perubahan Iklim Bisa Dicegah

Ilustrasi : Corbis

Ilustrasi : Corbis
YOGYAKARTA – Salah satu penyebab perubahan iklim adalah pemanasan global atau biasa disebut global warming. Pemanasan global terjadi karena panas matahari terperangkap di bumi atau yang biasa disebut dengan efek rumah kaca. Namun, keadaan ini dapat dicegah jika semua pihak mau bekerjasama untuk menanggulanginya.

Demikian disampaikan Kepala Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika Republik Indonesia Sriworo B Harijono dalam Seminar Nasional Perubahan Iklim dan Potensi Bencana Ekologis di ruang siding AR. Fachruddin A Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (6/6/2012). “Perubahan iklim saat ini menyebabkan terjadinya ragam bencana yang merugikan seperti banjir, tanah longsor, penurunan permukaan air laut, dan lain sebagainya,” tutur Sriwono.

Sriworo menyampaikan, pencegahan dampak dari perubahan iklim dan potensi bencana bisa mulai dari hal kecil seperti pelestarian lingkungan dengan penanaman pohon di beberapa wilayah tertentu. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan memperluas lahan hutan mangrove serta menjaga kelestarian hutan lindung.

“Upaya-upaya tersebut akan sangat bermanfaat karena pohon serta hutan yang hijau itu akan menyerap karbondioksida (CO2) yang menjadi akar dari terjadinya pemanasan global,” paparnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua LPB PP Muhammadiyah yang juga Dosen UMY, Rachmawati Husein. Dia menjelaskan, upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan memahami komponen-komponen yang berpengaruh terhadap besar kecilnya dampak suatu bencana.

“Risiko bencana dapat dikurangi jika kapasitas atau kekuatan dan sumber daya yang ada pada tiap individu serta lingkungan mampu mencegah, melakukan mitigasi, siap menghadapi, dan pulih dari akibat bencana dengan tepat,” kata Rachmawati.

Rahmawati menambahkan, tujuan mitigasi adalah mengurangi dan mencegah risiko kehilangan jiwa dan harta benda, baik melalui pendekatan struktural maupun non-struktural. Pendekatan struktural merupakan upaya pengurangan risiko melalui pembangunan fisik serta rekayasa teknis bangunan tahan bencana.

“Sedangkan non-struktural adalah upaya pengurangan risiko melalui pembuatan kebijakan dan peraturan pembangunan seperti zonasi, insentif, dan disinsentif , pajak serta asuransi bencana melalui tata ruang dan tata guna lahan serta melalui pendidikan, pelatihan dan penyebran informasi,” imbuhnya.

Dia menuturkan, pendekatan non-struktural lebih memberikan kemanan jangka panjang dan lebih mendukung pembangunan yang berkelanjutan yang sesuai dengan tujuannya. “Jika strategi tersebut diterapkan, maka tidak hanya perubahan iklim dan risiko bencana yang dapat dikurangi akan tetapi yang lebih penting adalah terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia serta dapat memenuhi kebutuhan mereka,” urainya.(mrg)(rhs)

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: