Dampak Perubahan Iklim Tidak Netral Gender

Sumber: http://www.theglobejournal.com/Varia/dampak-perubahan-iklim-tidak-netral-gender/index.php

Banda Aceh – “Tidak ada diskriminasi gender dalam program perubahan iklim di Aceh,” kata Zulfikar Arman dari JKMA saat menjadi nara sumber diskusi publik yang digagas Solidaritas Perempuan Bungong Jeumpa, Kamis (10/5) di Restaurant Pudu, Banda Aceh pagi tadi.

Zulfikar menambahkan dari perjalanan dan pengalaman bekerja dilapangan baik bersama kelompok perempuan, kelompok lingkungan secara langsung di komunitas menunjukkan adanya perbedaan cara pandang antara laki-laki dan perempuan terhadap alam dan sumber-sumber kehidupannya.

Perbedaan ini terjadi menurut Zulfikar karena banyak faktor. Pendidikan, sistem pengatahuan agama dan kepercayaan, sistem ekonomi dan lembaga ekonomi, sistem dan lembaga politik serta keluarga. Berbagai macam perubahan ini menghasilkan perbedaan yang seringkali menghasilkan ketidakadilan.

Ia menyebutkan ada 143 negara di dunia yang mendukung masyarakat adat agar mempunyai kebebasan dan keadilan dari tindakan diskriminasi dalam menggunakan hak masyarakat adat itu sendiri. “Penguatan rakyat bukanlah untuk perempuan atau laki-laki saja tapi untuk seluruh bagian dari masyarakat,” kata Zulfikar.

Puspa Dewi dari Solidaritas Perempuan (SP) Aceh juga angkat bicara sebagai nara sumber. Dalam presentasinya, Puspa mengatakan dampak perubahan iklim tidak netral gender, karena hadir ditengah sistem relasi sosial yang sudah timpang, tidak adil dan mensubordinasi perempuan.

Ada persoalan yang mendasar yaitu, kerja perempuan diranah domestik tidak diperhitungkan dalam ekonomi, sehingga kerja mereka sering tidak diakui bahkan rata-rata perempuan bekerja 15-18 jam perharinya.

Kemudian perempuan sulit mendapatkan hak atas kepemilikan lahan/properti. Perempuan juga jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan sehingga kebutuhan spesifik mereka jarang dipenuhi. Apalagi eksistensinya seringkali dihilangkan karena “Suaranya” dianggap dapat diwakilkan oleh ayah/suami mereka.

Apakah solusi perubahan iklim dapat menjawab permasalahan perempuan, tentu jawabannya tidak. Alasan menurut Puspa Dewai adalah karena tidak adanya jaminan pengakuan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan dalam setiap kebijakan, program ataupun proyek untuk mengatasi perubahan iklim.

“Perempuan dan lingkungan adalah dua entitas yang saling berkaitan, kontruksi gender telah meminggirkan akses dan kontrol perempuan dan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alamnya, sehingga prinsipnya perempuan sebagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam dilibatkan secara penuh,” sebut Puspa Dewi.

Sedikitnya 40 peserta yang didominasi unsur perempuan menghadiri acara diskusi publik terkait standar aturan perlindungan perempuan dalam perubahan iklim. Acara ini mengundang aktifis lingkungan sebagai nara sumber, yaitu Dewa Gumay dari Flora Fauna International (FFI) Aceh Programme, Zulfikar Arma dari JKMA, Puspa Dewi dari SP Aceh dan Erna dari masyarakat Leupung, Kabupaten Aceh Besar.

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: