Bahan Baku PDAM Tercemar

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b428af17b489e33751a89727c67fa756&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Senin (23/4) pagi tadi ribuan ikan mabuk di Kali Surabaya, limbah industri diduga salah satu pemicunya

SURABAYA – Meski kepanjangan akronim PDAM adalah Perusahaan Daerah Air Minum, tapi bagi pelanggan di Surabaya wajib berfikir ratusan kali untuk mengonsumsi air yang diproduksi Surya Sembada–nama PDAM Surabaya. Pasalnya, Senin (23/4) pagi ini ikan mabuk (pingsan kemudian mengambang, Red)  ditemukan di sepanjang Kali Surabaya, mulai Pintu Air Gunungsari hingga Pintu Air Jagir. Asal tahu saja, air yang digunakan sebagai habitat hidup ikan tersebut adalah bahan baku air PDAM Surya Sembada.

“Ini problem serius, PDAM harus segera mengonfirmasi ke Jasa Tirta. Belum lagi kalu pelaku pencemaran dari perusahaan di sekitar sungai, harus ditindak itu!” ujar dosen Unair sekaligus pengamat lingkungan Suparto Wijoyo pagi tadi. “Kalimas itu kan cucunya kali Brantas. Kalau ada ikan ngambang di sana, ya masalahnya ada di bagian hulu sungai, lakukan penelitian di sana, cari sumber masalahnya, tindak pelakunya,” tegas Suparto.

Menurut pengamatan di lapangan, warga di sekitar sungai Jagir, Wonokromo sejak pukul 05.00-07.00 berebut ribuan ikan mabuk yang mengambang di pinggir sungai. “Saya biasanya bekerja jadi tukang becak, namun karena tadi mengambil ikannya mudah akhirnya hari ini saya jual ikan dulu” ungkap Supadi.

Saat ditanya apakah tidak berbahaya kalau ikannya ternyata mabuk karena tercemar bahan kimia, Supadi hanya tersenyum dan mengatakan akan mengonsumsi sendiri bila tak lagu.

Menurut warga sekitar ikan mabuk ini terakhir terjadi pada 2009 lalu. “Mungkin karena luapan air hujan ditambah kondisi kali yang sudah sangat kotor sehingga banyaknya sampah ikan mabuk ada lagi,” kata Imam salah satu warga.

“Fakta riil yang terjadi di Kali Surabaya itu, merupakan indikasi kuat, kalau Kali Surabaya sudah overload atau pencemarannya melebihi ambang,” kata Prigi Arisandi Direktur Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton).

Menurut Prigi, ikan mati massal di Kali Surabaya itu, merupakan indikator alami atau biologis, kalau kondisi Kali Surabaya sudah mati dan rusak, sehingga mempengaruhi daya tahan dari tubuh ikan.”Selain itu, ada dugaan kuat, kematian ikan-ikan itu, karena pencemaran limbah, yang dibuang industri di sepanjang Kali Surabaya, waktu hujan turun dini hari tadi,” kata Prigi.

Dari penelitian yang dilakukan Ecoton, dipastikan kondisi dan kualitas air di Kali Surabaya, sudah tercemar dan tidak layak dikonsumsi, khususnya untuk manusia. Untuk itu, Ecoton mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur, segera mengambil sikap tegas, pada perusahaan yang membuang limbah seenaknya.

“Tidak hanya limbah industri yang harus diperhatikan pemerintah, tapi sumbangan limbah-limbah domestik dari rumah tangga, juga menyumbang besar terjadinya penurunan kualitas air Kali Surabaya. Untuk itu, perlu ada SOP (Standar Operasional Prosedur), untuk menindak pembuang limbah di Kali Surabaya,” tegas Prigi.

 

Terpisah, Wawan Some, penggiat lingkungan dari Komunitas Nol Sampah mengakui bahwa kejadian ini cukup mengagetkan. Hal ini dikarenakan kasus serupa ditemukan sekitar 4 tahun lalu. Penyebab pencemaran air, menurut Wawan, ada tiga kemungkinan. Yang pertama adalah akibat perubahan iklim yang terjadi belakangan ini, sehingga mempengaruhi kandungan oksigen di air.

Kemungkinan kedua adalah akibat dibukanya salah satu pintu air Gunungsari, sehingga mengakibatkan endapan lumpur di dasar sungai ikut naik dan larut ke sungai Kalimas. Endapan lumpur yang mengandung bahan-bahan organik, bakteri dan senyawa lainnya kemudian terkena tekanan akibat dibukanya pintu air, mempengaruhi kualitas oksigen di air. “Karena kandungan oksigennya kecil, mungkin ini yang bikin ikan-ikan itu mati,” ujar Wawan.

Penyebab lain adalah adanya kemungkinan pencemaran akibat limbah industri. “Semuanya perlu dikaji ulang, mana yang benar-benar menjadi penyebab utamanya,” ujarnya.

SEmentara, dikonfirmasi masalah ini, Kepala bagian Humas PDAM Surya Sembada Ary Wilujeng mengatakan, sejak mendengar banyak ikan mati di kali Surabaya pada, Senin (23/4) pagi tadi PDAM sudah langsung mengambil sample air dari kali itu. Air sample langsung dibawa ke laboratorium milik PDAM sendiri. Hasil sementara belum ditemukan tingkat pencemaran yang mengkhawatirkan.

“Hasil pemeriksaan di teman-teman lab PDAM tingkat pencemaran kali Surabaya hari ini masih normal. Artinya tidak melebihi batas dari nilai normal ukuran tingkat pencemaran air di kali tersebut,” katanya.

Dengan kondisi ini PDAM belum melakukan tindakan apa-apa tas kejadian tersebut. PDAM masih mengelola air kali Surabaya sebagai bahan produksi airnya seperti biasa. Cuma, dalam pengelolaannya memerlukan tambahan zat kimi agar tingkat pencemaran dalam air tersebut hilang.

“Meski demikian kami tetap mewaspadai kondisi ini. Bila sewaktu-waktu tingkat pencemarannya sangat tinggi dan melebihi dari ambang batas toleransi normal, kami akan melakukan kerja ekstra. Mungkin, pengelolaan air kali Surabaya diperketat penagangannyam,” terang dia.

Disinggung apakah PDAM tidak melakukan class action ke Perum Jasa Trita selaku pemilik kali Surabaya, Ary menambahkan, belum melakukan tindakan itu. PDAM juga belum melakukan peneguran ke perum Jasa Tirta. “Biasanya, Perum Jasa Tirta menghungi PDAM kalau ada tingkat pencemaran sangat tinggi, tapi belum ada komunikasi dengan Perum Jasa Tirta,” jelasnya.

Sementara Sekretaris Dewan Pelanggan PDAM Surabaya Darmantoko mengatakan, PDAM harus mengkaji ulang penggunaan air kali Surabaya sebagai bahan bakunya. Sebab, tingkat pencemaran air Kali Surabaya sudah sangat tinggi.

Menurutnya, terpilihnya Ashari Mardiono sebagai Dirut PDAM tidak hanya sekadar memenuhi target perolehan jumlah pelanggan PDAM dengan target sebear 440.000 pelanggan semata, tapi juga harus mampu meningkatkan kualitas air yang diproduksinya.

Selain itu, Ashari juga harus mampu mengurangi tingkat kekeruhan air produksi PDAM, tingkat kebocoran air akibat pipa rusak dan pencurian air, serta memperbaiki jaringan pipa PDAM yang sekarang semarwut.

Tanpa ada upaya peningkatan kualitas air tersebut, lanjutnya, maka kepemimpinan Ashari tidak ada bedanya dengan kepempinan Dirut PDAM sebelumnya. “Jadi kepemimpanan Ashari harus lebih baik dari Kepemimpinan Pak Selim dan dirut-dirut PDAM sebelumnya,” jelasnya.

Sekadar mengingatkan awal bulan April ini PDAM juga menjadi buah bibir karena meski batal menaikkan harga airnya tapi dilakukan rekategorisasi. Walhasil, pelanggan tetap harus membayar lebih mahal. Tak hanya itu, pekan lalu akibat perbaikan panel listrik di IPAM Karangpilang sekitar 1 juta jiwa di Surabaya tak bisa menikmati air selama dua hari.

Sementara, Kepala Divisi Asa III Perum Jasa Tirta Uli Muspardewanto, mengelak ketika ditanya apakah mabuk-nya ikan-ikan tersebut akibat kualitas air yang tercemar. Menurutnya, kondisi air di sekitar pintu air Wonokromo hingga ke arah Jagir normal semua. “Ikan mabuk ini saya kira kejadian lokal saja, bukan masalah kualitas air,” ujarnya.

Dugaan penyebab kejadian, menurut Uli, lebih mengarah pada racun (bom) yang digunakan pemancing untuk menjaring ikan di sungai tersebut. “Populasi ikan di sana kan masih banyak, yang mancing juga banyak, mungkin ada yang pakai racun,” katanya.

Sejak kejadian pukul 06.00 tadi pagi, hingga saat ini pihak Jasa Tirta masih melakukan penelitian untuk mengungkap penyebab kejadian. Mengenai kualitas air dari pompa air yang beroperasi tadi pagi, lanjut Uli, masih diteliti kandungannya. Namun yang dikhawatirkan, karena kejadian sudah berlangsung beberapa jam lalu, hasil penelitian tidak lagi akurat. “Mabuknya kan jam 6 tadi, takutnya kualitas airnya sudah berbeda pada saat dilakukan penelitian,” tandasnya.Pur,m6,m9

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: