Ancaman Jamur terhadap Pangan dan Satwaliar Kini Makin Besar

Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/04/17/45987/ancaman_jamur_terhadap_pangan_dan_satwaliar_kini_makin_besar/#.T41A8bMth_4

BERBAGAI species jamur, yang terpacu oleh perdagangan, perjalanan dan perubahan iklim, kini menimbulkan ancaman makin besar terhadap pasokan pangan dan keragaman hayati.

Para ilmuwan menegaskan, tujuh epidemi yang disebabkan jamur tanpa diketahui publik umum kini beraksi, menyerang lebah, kelelawar, kodok, terumbu karang lunak dan penyu laut serta padi dan gandum.

Kesehatan manusia dan matapencaharian kini terancam karena jamur menyebabkan kerugian sebesar 60 miliar dolar setahun lantaran pusonya jagung, gandum dan padi saja, papar hasil penelitian para ilmuwan seperti dipublikasikan dalam jurnal sains Nature.

“Pada hewan dan tumbuh-tumbuhan, species jamur dan mirip jamur dalam jumlah terbanyak menyebabkan sebagian kematian dan kepunahan terparah yang pernah terjadi di berbagai species liar, dan kini membahayakan ketahanan pangan,” tegas para ahli tadi memperingatkan.

Laporan itu menyebutkan jamur kulit mematikan bernama Batrachochytrium dendrobatidis, yang ditemukan pada 1977, telah menginfeksi 500 species kodok dan anak katak di 54 negara, di semua benua tempat binatang amfibi itu ditemukan.

Sejumlah area di Amerika Tengah telah kehilangan lebih 40 persen dari species amfibi mereka.

Kelelawar di Amerika Utara dan Kanada dewasa ini bermatian akibat serangan “white nose syndrome,” suatu patogen bernama Geomyces destructans, yang menyebabkan timbulnya belang jamur warna putih tumbuh pada moncong mereka. Jamur itu diyakini memiliki rumah alami pada tanah di gua.

Species keluarga microsporidia dari jamur itu dituding antara lain sebagai bagian dari apa yang disebut colony collapse disorder di antara lebah madu.

Di iklim tropis, jamur Fusarium solani menyebabkan telur-telur yang ditelurkan penyu loggerhead gagal menetus, sementara terumbu karang lunak, kipas laut, kini menurun, sistem imunnya tertekan dibuat jamur tanah.

Suatu patogen bernama magnaporthe oryzae, yang menyebabkan suatu penyakit bernama rice blast, telah menyebabkan hilangnya 10 hingga 35 persen pada panen padi di 85 negara.

Keprihatinan lain yang muncul begitu cepat bagi petani adalah karat gandum yang disebabkan Puccinia graminis. Suatu strain bernama Ug99 dapat menyebabkan 100 persen hilang-nya tanaman, yang diperparah oleh sikap petani terlalu mengandalkan saju jenis gandum saja.

Dana Besar

Kehancuran atas berbagai tanaman ini akibat serangan jamur, dan juga jagung, kentang dan kedelai, kini mencapai 125 juta ton setahun, menurut studi itu. Mengatasi problema ini butuh dana yang besarnya cukup untuk memberi makan satu dari 12 orang dari populasi dunia.

Fungus disebarluaskan oleh spora-spora kuat, jahat dan panjang umur yang dapat dimunculkan oleh angin dan air.

Namun intervensi manusia, melalui perdagangan, transportasi dan pemanasan global, kini justru mempercepat penyebarannya, lanjut studi tersebut.

Misalnya, jamu amfibi B. dendrobatidis telah memiliki tempat berpijak di sejumlah ekosistem dengan pengenalan kodok bullfrog Amerika Utara, yang resisten terhadap penyakit tadi.

Pada pertengahan abad ke-19, suatu jenis jamur bernama Phytophthora infestans memicu penyakit yang mewabah pada kentang dikenal sebagai late blight, yang menyebabkan jutaan kematian akibat bencana kelaparan dan suatu eksodus ke Amerika.

Fungus itu berasal dari Pegunungan Andes namun menyebar ke Meksiko dengan menumpang pada akar umbi yang dibawa kesana, dan dari sana ke AS hingga akhirnya ke Irlandia, papar satu teori.

“Hilangnya tanaman disebabkan serangan jamur merupakan tantangan terhadap ketahanan pangan, namun kita sayangnya tak memiliki sarana memadai untuk mengendalikan kehadiran dan pengembangan mereka,” papar Sarah Gurr, profesor dari patologi tanaman molekul di Oxford University.

Mengatasi epidemi jamur dimulai dari bawah, dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana patogen itu berinteraksi dengan tanaman yang ditumpangi dan lingkungan. Dalam hal tindakan untuk memberantasnya, “pencegahan efektif dan pengendalian tepat waktu” merupakan cara terbaik, karena langkah itu menghentikan penjangkitan dini pada jejak-jejaknya.

(afp/bh)

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: