POJOK KANAN: Cara Mengurus ISBN (Oleh: Arisa Fukushima / Nurfita)

 
Sumber: http://akusukamenulis.wordpress.com/about-dwriter-and-downer/

Maret 29, 2011 oleh akusukamenulis

 Oleh: Arisa Fukushima / Nurfita

Langit tampak berawan kelabu saat saya menginjakkan kaki di halaman Perpustakaan Nasional.  Jakarta memang tengah dirundung mendung siang ini.  Sebuah bangunan serupa pendopo yang jauh memanjang ke belakang menyambut siapa saja yang datang berkunjung.  Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berdiri menjulang di samping pendopo.

Hari ini saya berencana mengurus ISBN untuk buku antologi yang akan segera terbit.  Forum Lingkar Pena dan Komunitas Penulis Muda Indonesia tengah punya ‘gawe‘ bareng di Semarang.  Berhubung saat ini saya tengah melanjutkan kuliah di sebuah kampus di kawasan Jakarta Selatan, maka pak Wardjito pun meminta saya untuk mengurus ISBN antologi tersebut.

Sebuah pengalaman baru.  Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke Pepusnas di Salemba, Jakarta Pusat.  Sebelumnya saya memang pernah ke daerah Salemba, tepatnya SMA 68 Jakarta, tapi bukan dalam kegiatan kepenulisan melainkan mengajar.  Rute yang dilalui mungkin sedikit berbeda karena siang ini saya berangkat dari belakang Sarinah.

Usai menyampaikan permohonan data riset untuk tugas Sistem Informasi Manajemen ke gedung Miele, saya pun memisahkan diri dari kelompok.  Saya naik taksi ke Salemba, sedangkan uni Rika dan mas Ali naik mobil melanjutkan perjalanan ke Kantor Pusat DJP di Gatot Subroto.  Alhamdulillah kondisi jalan lancar dan bebas macet, perjalanan Sarinah-Salemba memakan waktu sekitar 20 menit.

Pak Wardjito sempat memberi tahu saya untuk menemui Ir. Hidayat Edi Pramono di lantai 2 Perpusnas.  Tapi sesampainya di halaman Perpusnas, saya sempat ragu : gedung mana yang dimaksud oleh pak Wardjito via SMS?

Satpam di pos depan kemudian menunjukkan gedung tempat pengurusan ISBN yang dimaksud.  Saya melangkah masuk ke gedung dan memperhatikan kondisi sekitar.  Sebuah pertanyaan baru muncul :  Mana bukunya?  Gedung Perpusnas kok gak ada jajaran buku satu pun?

Setelah naik lift ke lantai 2 barulah saya paham kalau bagian gedung ini khusus untuk mengurusi keperluan administrasi Perpusnas.  Lobi di lantai 2 tampak sederhana, hanya ada beberapa sofa dan dua meja disana.  Dua buah lukisan tampak terpasang di dinding, satu lukisan diambil dari kisah Rama Sinta di Kitab Ramayana dan lukisan yang lain menggambarkan pemandangan pegunungan dengan delapan burung merpati putih bertengger di atas pohon.

Bagian pengurusan ISBN/KDT terletak di sebelah kiri jalan masuk, ruang terdepan.  Ada beberapa petugas di dalam ruangan, dan salah seorang mengatakan bahwa saat itu masih jam istirahat, saya diminta masuk 20 menit lagi.  Urung keluar dari gedung, saya memutuskan untuk menunggu di lobi saja.  Mengedarkan pandang ke luar jendela di lantai 2, maka gedung Kementerian Sosial akan tampak bertetangga dengan kawasan Perpusnas.  Di seberang jalan sana, tampak sebuah bangunan bergaya Minang menjulang tinggi di tengah kesibukan lalu lintas ibu kota.  Entah gedung apa, sebuah bank, perusahaan asuransi, atau rumah makan padang.

Bosan menunggu, saya kembali masuk ke ruangan ISBN/KDT.  Seorang bapak menyilakan saya duduk di dalam.  Tak lama kemudian saya dipanggil oleh petugas lain, kali ini seorang ibu separuh baya.  Berkas permohonan ISBN saya berikan kepadanya untuk diperiksa.  Entah karena saya sedang letih atau apa, saya merasa pelayanan ibu ini kurang ramah.  Ia menanyakan beberapa hal terkait penerbit buku, juga menanyakan beberapa hal lain.  Sepertinya ia tidak puas dengan jawaban yang saya berikan hingga seorang bapak meminta berkas saya dari ibu tersebut.  Ibu itu masih kurang ramah dan saya terus memerhatikan ibu itu sampai ia beralih ke pekerjaan yang lain.  Ah, andai saja konsep pelayanan prima itu bisa dilakukan oleh semua pegawai di negeri ini.

Dalam pelayanan bapak inilah kemudian saya paham mengenai kekurangan berkas ISBN yang saya ajukan.  Kekurangannya tidak fatal karena hanya terkait logo penerbit yang tidak dicantumkan di kover depan, tapi tetap harus diperbaiki.  Maka saya pun menyetujui untuk merevisi berkas.  Bapak itu pun memberikan dua buah formulir terkait syarat-syarat pengajuan ISBN di Perpusnas.  Berikut ini adalah isi kedua formulir tersebut  :

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

National Library of Indonesia

National ISBN Agency

Perlu kami beritahukan kepada Saudara bahwa untuk berperan aktif dalam penggunaan/pemakaian nomor ISBN/KDT, Saudara dimohon untuk melengkapi persyaratan-persyaratan sebagai berikut  :

A.  PERSYARATAN UNTUK ANGGOTA BARU

1.  Mengisi formulir surat pernyataan disertai dengan stempel penerbit

2.  Membuat surat permohonan atas nama penerbit (berstempel) dari buku yang diterbitkan

3.  Mengirimkan fotokopi  :  Halaman judul, Balik halaman judul (dapat diketahui pengarang dan penerbit buku yang bersangkutan), daftar isi, kata pengantar.

B.  PERSYARATAN UNTUK ANGGOTA LAMA

Hanya butir 2 dan 3 saja yang perlu dikirimkan kepada Tim ISBN/KDT.  Setelah buku diterbitkan, kami mohon kesediaan saudara untuk mengirimkan 2 (dua) eksemplar dari hasil terbitan tersebut kepada Tim ISBN/KDT Perpustakaan Nasional RI agar kami dapat memantai pemakaian ISBN/KDT Saudara.

KORESPONDENSI/INFORMASI  :

Telepon  :  (021) 929209 79

Fax           :  (021) 392 7919; (021) 319 084 79

E-mail     :  isbn.indonesia@gmail.com

Pos           :  Perpustakaan Nasional RI

Direktorat Deposit Bahan Pustaka

Sub Direktorat Bibliografi

Tim ISBN/KDT

Jalan Salemba Raya 28 A / Kotak Pos 3624

Jakarta 10002

LAYANAN YANG DISEDIAKAN  :

1.  Nomor ISBN & KDT

2.  Nomor ISBN & KDT + Barcode

Untuk poin pertama di atas, formulir surat pernyataan berisi keterangan sebagai berikut  :

SURAT PERNYATAAN

Dengan surat pernyataan ini kami  :

Penerbit                                                     :

Alamat                                                        :

Telp/Fax                                                    :

E-Mail                                                          :

Nama Penanggung Jawab                   :

Rata-rata terbitan tiap tahun            :  ………. Judul

Menyatakan bersedia ikut mengambil bagian dalam system ISBN dan KDT (Katalog Dalam Terbitan).  Demikian agar badan yang bertanggung jawab menangani masalah ini menjadi maklum.

Surat pernyataan ini kami sampaikan kepada Tim ISBN/KDT PERPUSTAKAAN NASIONAL RI.  Jl. Salemba raya No. 28 A, Kotak Pos 3624 Jakarta 10002, sebagai tindak lanjut dari pertemuan ilmiah ISBN.

….., …………… 2011

Pimpinan penerbit

(………………………)

Saya sempat bertanya, apakah pengurusan ISBN harus datang langsung ke gedung Perpusnas?  Ternyata pengurusan ISBN/KDT bisa dilakukan via fax dan pelayanan selanjutnya akan dilakukan via imel.  Kebijakan ini tentu saja akan sangat memudahkan penerbit yang ada di luar Jakarta, terlebih lagi di luar Jawa.  Selain itu, pengurusan ISBN ini pun tidak dipungut biaya alias gratis.

Usai sholat dzuhur di Masjid Ilmi di bagian belakang, saya berkeliling untuk melihat-lihat kawasan Perpusnas.  Pendopo yang saya maksudkan di awal tulisan ini ternyata semacam aula yang digunakan untuk acara-acara pertemuan atau seminar lokal dan nasional.

Pintu masuk perpustakaan ternyata terletak di bagian tengah gedung bertingkat.  Satu atap dengan gedung administrasi, hanya saja pintu masuknya sengaja dipisah.  Sebuah relief besar dari batu pualam putih akan menyambut setiap pengunjung perpustakaan.  Beberapa papan pengumuman dan buku-buku terpajang di etalase kaca.  Sudut-sudut lobi digunakan untuk area hotspotdan hampir semuanya penuh oleh pengunjung.

Di sebuah ruang tunggu, di depan ruangan bertuliskan “Keanggotaan”, tampak beberapa pengunjung duduk-duduk mengobrol.  Sengaja saya melongok ke dalam melalui dinding ruangan yang terbuat dari kaca, ruangan “Keanggotaan” itu tampak sepi dan gelap.  Saya pun bertanya ke bagian informasi dan mendapati 4 orang ada di sana.  Ternyata untuk pendaftaran keanggotaan baru Perpusnas dan beberapa bagian perpustakaan sedang ditutup untuk beberapa hari.  Perpustakaan akan buka kembali seperti biasa di bulan April.  Sedang stock opname, begitu kata salah satu petugas.

Ketika hari menjelang sore, saya kembali menuju ke Gatot Subroto naik taksi.  Harus bergerak cepat jika tak ingin terjebak macet Jakarta di sore hari.  Uni Rika dan mas Ali sudah menunggu di Kanpus untuk bersama-sama pulang ke Bintaro.

Sepanjang perjalanan, saya mencoba mengingat-ingat lagi pengalaman di Perpusnas.  Ternyata pengurusan ISBN yang selama ini hanya saya baca via mesin search engine sudah saya alami sendiri.  Ada banyak kemudahan pelayanan birokrasi memang, walau masih ada kekurangan.  Kritik atas pustakawan yang jutek, tidak ramah, dan jauh dari budaya buku ternyata masih banyak ditemui di banyak perpustakaan, tak terkecuali di Perpusnas.  Hmmm, literasi memang masih menjadi momok dalam masyarakat kita.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah  :  ketika pelayanan birokrasi saja bisa pelan-pelan ditingkatkan, kenapa tidak dengan budaya membaca?  (blog.akusukamenulis)

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: