Hukum Adat dan Upacara Adat Ditata Ulang

Jum’at, 09 Desember 2011 , 07:32:00

 

SENDAWAR – Bupati Kubar Ismail Thomas mengatakan, masuknya berbagai nilai keyakinan dan paham modern saat ini, tak jarang mengganggu eksistensi adat dan hukum adat. “Sehingga ada pertanyaan, unsur atau nilai mana dari adat dan hukum adat yang harus dipertahankan sebagai realisasi eksistensi masyarakat pemiliknya. Kemudian, unsur atau nilai mana yang boleh diubah sebagai upaya penyelarasan dengan konteks hidup masyarakat modern,” kata bupati dalam sambutan tertulis disampaikan Wakil Bupati Didik Effendi, ketika membuka seminar dan lokakarya (semiloka) Presidium Dewan Adat (PDA)  untuk kawasan Linggang dan Rumpun Asa. Semiloka yang diikuti 215 peserta  dilaksanakan di Lamin Adat Luuq Kerai, Kecamatan Linggang Bigung selama tiga hari, dimulai Kamis (8/12) kemarin.
Ke-215 peserta, meliputi 40 kepala adat besar dan staf dari 8 kecamatan, 155 kepala adat kampung beserta staf di Kecamatan Linggang Bigung dan 31 kampung dari Kecamatan Rumpun Asa,  20  tokoh masyarakat adat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perusahaan, serta  40 peserta dari PDA Kubar.
Hukum adat ini, kata dia, merupakan penentu atau sangat erat dengan segala aktifitas masyarakat adat yang menjujung adat istiadat baik itu secara berkelompok maupun individu. Segala aktivitas atau gerak kehidupan manusia ada garis-garis yang boleh dilakukan ataupun yang tidak boleh.
“Walaupun semua kita sudah tahu ada aturan yang dibuat oleh negara (hukum formal), tetapi hukum adat tetap dihormati dan dipatuhi oleh seluruh masyarakat adat. Tanpa terkecuali karena hukum adat lebih dulu ada sebelum  hukum formal,” kata dia. Dengan dilakukannya semiloka ini, bupati mengharapkan, peraturan (hukum adat) dan tata cara adat dapat tersusun secara rapi, dapat diterima dan ditaati oleh semua masyarakat adat.
Ketua PDA Kubar Yustinus Dullah mengatakan, semiloka untuk  kawasan Linggang dan Rumpun Asa ini merupakan tindak lanjut semiloka pertama yang merupakan agenda kegiatan  PDA  2011. Tujuannya, menyepakati tata cara upacara adat dan aturan yang dipakai dalam pelaksanaan upacara adat. Berikutnya, menyepakati aturan hukum adat dan kesepakatan penetapan nilai bobot Gawai, dan menyepakati aturan sanksi adat yang akan dikenakan atas pelanggaran pada pelaksanaan upacara adat.
“Berikutnya, merumuskan pola kerja sama dan koordinasi para pihak dalam rangka penegakan hukum adat dan pengambilan tindakan sanksi atas pelanggaran dalam pelaksanaan upacara adat,” kata Yustinus.
Kampung yang masuk dalam kawasan Linggang adalah Bigung, Amer, Mapan, Tutung, Kebut, Mencelew, Kelubaq, Muara Mujan kemudian Linggang Marimun, Muyup Batuq, Gabung dan Pacar. Kemudian, kampung yang masuk dalam Rumpun Asa adalah Asa, Juhan Asa, Balok Asa, Juaq Asa, Ongko Asa, Geleo Asa. Selanjutnya, Ombau Asa, Gemuhan Asa, Ngenyan Asa, Pepas Asa, Muara Asa pecahan dari Joleq Asa, Geleo Baru pecahan dari Geleo Asa dan Sendawar pecahan dari Gemuhan Asa, serta Belempung Ulaq pecahan dari Ngenyan Asa. (hms12/rud/ss)

 

Advertisements

  1. Bahkan ada yang iseng, duialr panas hingga berlama lama didalam ruang ATM demi menikmati sejuknya AC 😀




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: