Jangan Sepelekan Ancaman Penurunan Permukaan Tanah Jakarta

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=293354

 

KILAS BALIK 2011
LINGKUNGAN HIDUP

Jangan Sepelekan Ancaman
Penurunan Permukaan Tanah Jakarta

Selasa, 20 Desember 2011

Jebolnya tanggul Kalimalang pada hari kedua Idul Fitri 1432 Hijriah, Rabu, 31 Agustus 2011, membuat Kota Jakarta “bergoyang”. Sebagian wilayah Ibu Kota tak teraliri air bersih perpipaan (air PAM). Akibatnya, masyarakat menjerit karena berhari-hari mandi dengan air sekadarnya. Untuk mencuci pakaian, memasak, dan lain-lain harus membeli air bersih yang dijual melalui tangki. Menyedihkan sekali.Anehnya, hotel-hotel berbintang, kantor-kantor pemerintah, dan swasta di jantung kota, seperti di bilangan Jalan Sudirman dan MH Thamrin, tidak ada yang komplain kepada operator PAM Jaya. Ini pertanda apa? Ternyata, mereka masih menggunakan air perpipaan sebagai cadangan. Untuk kebutuhan air bersih sehari-hari, pengelola gedung menyedot air dari dalam tanah. Bahkan, penyedotan air tanah dilakukan tanpa terkendali.Praktik penyedotan air tanah dalam itu ternyata berdampak terhadap kerusakan lingkungan hidup, yakni turunnya permukaan tanah. Dari tahun ke tahun, penurunan permukaan di Jakarta terus terjadi, bahkan di Jakarta Utara sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan.Tak dapat dibantah, penyedotan air bawah tanah sebagai satu-satunya penyebab utama penurunan muka tanah. Kian tahun makin meningkat meski jumlah air yang terekstraksi menurun. Pemerintah juga belum dapat mengendalikannya karena suplai air perpipaan baru memenuhi 60 persen kebutuhan.Penyedotan air tanah secara besar-besaran itu menyebabkan permukaan air di dalam tanah terus menurun dan menyebabkan seluruh lapisan tanah di atasnya ikut turun. Hal itu dikatakan ahli geodesi dari Institut Teknologi Bandung, Hasanuddin Z Abidin.Kepala Bidang Pencegahan Dampak Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Perkotaan Badan Pengelola Lingkungan Hidup daerah (BPLHD) DKI Dian Wiwekowati dalam sebuah kesempatan mengatakan, Jakarta menjadi salah satu kota dengan penurunan muka tanah paling tinggi dari 530 kota di dunia.Menurut keterangan Kepala Bidang Penegakan Hukum Lingkungan BPLHD DKI Ridwan Panjaitan, deposit air tanah di Jakarta sebesar 77 juta meter kubik per tahun dan yang boleh diambil hanya 60 persen atau 48 juta meter kubik per tahun. Jika terjadi penurunan muka tanah, ini berarti telah terjadi ekstraksi secara berlebihan. Saat ini, laporan resmi penggunaan air tanah hanya 20 juta meter kubik.Terus Berlangsung
Nila Ardhianie dari Amrta Institute for Water Literacy memprediksi masalah ekstraksi air tanah akan terus berlangsung. Pasalnya, payung hukum yang menjadi pijakan belum memadai. Perda dan peraturan gubernur yang ada baru mengatur perpajakan. Konservasi dan pengawasannya belum ada.Empat perda yang ada telah mencukupi, yakni Perda No 10 Tahun 1998 tentang Pemanfaatan Air Tanah, Perda No 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, Perda No 17 Tahun 2010 tentang Pajak Air Tanah, dan Perda No 1 Tahun 2004 tentang Air Tanah.Namun, Pemprov DKI sudah mengantisipasi dengan hanya memberikan izin pembangunan gedung jika mereka membuat pengolah air limbah sendiri.Penyedotan air tanah dalam yang tidak terkendali dapat berakibat fatal, membuat ketersediaannya mengalami pengurangan yang cukup drastis. Yang lebih parah lagi menyebabkan penurunan permukaan tanah di Jakarta. Kondisi itu sudah sangat mengkhawatirkan.Sejak tahun 1974 hingga 2010 diperkirakan penurunan itu mencapai 4,1 meter. Dan, diprediksi, pada tahun 2030 tanah Ibu Kota akan mengalami penurunan hingga 6,6 meter.Berdasarkan penelitian LSM Peduli Lingkungan, tercatat penurunan permukaan tanah paling parah dialami di Muara Baru, Cilincing, Jakarta Utara dengan kedalaman penurunan 4,1 meter. Hal yang sama juga terjadi di Ancol, mencapai 1,88 meter. Tak hanya Jakut, wilayah lain pun mengalami hal yang sama. Beberapa di antaranya Cengkareng Barat, Jakbar dengan penurunan hingga 2,5 meter, Daan Mogot 1,97 meter, Cempaka Mas, Jakpus 1,5 meter, Cikini, Jakarta Pusat 0,80 meter, dan Cibubur, Jaktim 0,25 meter.Gubernur DKI Fauzi Bowo mengakui bahwa penurunan permukaan tanah dan kenaikan permukaan laut berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Gejala alam yang terjadi saat ini adalah adanya kombinasi antara peningkatan permukaan air laut dan penurunan permukaan tanah.Jika hal itu terus berlangsung tanpa adanya kontrol, ketersediaan air bisa menjadi barang langka untuk kelangsungan hidup yang akan datang. Karena itu, semua pihak harus peduli, sehingga kita mampu mewariskan kepada anak cucu lingkungan yang baik, menjamin harmoni kehidupan.Menurut Fauzi Bowo, seiring dengan meningkatnya penduduk Jakarta, maka permintaan air bersih untuk kehidupan sehari-hari juga mengalami peningkatan. Tuntutan ini, katanya, menyebabkan terjadinya penyedotan air bawah tanah untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga dan keperluan industri sehingga mengakibatkan penurunan tanah.Adapun kenaikan permukaan laut setengah meter menyebabkan beberapa bagian di wilayah Jakarta bisa terendam secara permanen. Fauzi Bowo mengungkapkan, inilah alasan mengapa Pemprov DKI membangun sistem polder di seluruh Jakarta yang rawan banjir, di mana air dipompa keluar saluran yang lebih besar dan akhirnya bermuara ke laut.Perubahan iklim juga menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan. Perubahan iklim itu merupakan sesuatu yang global dan tidak mengenal batas negara atau administrasi. Perubahan iklim di Jakarta bisa berarti peningkatan permukaan laut. Pembengkakan air laut dan mencairnya gletser dan lapisan es kutub menyebabkan air laut meningkat.Kenaikan permukaan air laut dapat mempercepat erosi pantai, menyebabkan intrusi air laut ke air tanah, merusak lahan rawa pesisir dan menenggelamkan pulau-pulau kecil. Bahkan, kenaikan permukaan laut 5 cm-8 cm akan memiliki dampak yang parah pada Kota Jakarta yang sudah rentan terhadap banjir dan limpasan air setelah badai.
Buktinya Jembatan
Tapi, ada bahaya lebih besar yang sedang mengancam kehidupan orang Jakarta. Permukaan sebagian wilayah Ibu Kota sedang turun dengan kecepatan hingga 18 cm/tahun di beberapa kawasan tertentu. Kecepatan itu makin tinggi dan wilayah yang mengalami penurunan makin luas.Ini hasil studi konsultan Deltares yang dipaparkan di kantor Rujak Center for Urban Studies pada 16 September 2011. Buktinya bisa dilihat di Jakarta Utara. Banyak jembatan yang kini menyentuh air, bukan karena permukaan air yang naik, melainkan jembatan yang turun. Juga ada pintu air yang tidak lagi bisa dibuka karena telah turun sedemikian rupa sehingga permukaan laut lebih tinggi daripada permukaan air saluran di sisi lainnya.Sebagian Kampung Luar Batang di sebelah barat Pelabuhan Sunda Kelapa telah dipagari tembok setinggi 3 meter karena permukaan air laut telah berada 1 hingga 1,5 meter di atas permukaan tanah. Kedengarannya seperti fiksi ilmiah, tapi nyata. Semoga tidak menakutkan.
Memang air permukaan air laut naik juga karena pemanasan bumi. Tetapi, lajunya tidak seberapa dibandingkan dengan penurunan tanah tersebut. Karena tanah Jakarta bersifat lempung, maka ketika airnya disedot, ia akan mengerut. Bahkan, apabila penyedotan berhasil disetop sekarang, perlu ratusan tahun untuk mengembalikan air tanah. Untuk menghentikan penyedotan air tanah, dibutuhkan waktu 2-3 tahun apabila ada penegakan hukum yang ketat dan berlaku tanpa pandang bulu. Namun, kapasitas air pipa harus ditambah hingga 60 persen guna memenuhi kebutuhan seluruh warga Jakarta. (Yon Parjiyono
Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: