“Indaba”, “Ubuntu”, dan Pahlawan

Sumber: Kompas, Desember 2011

PERUBAHAN IKLIM

“Indaba”, “Ubuntu”, dan Pahlawan

KOMPAS/BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Suasana sidang Konferensi Para Pihak Ke-17/Konferensi Para Pihak untuk Protokol Kyoto Ke-7 di Durban, Afrika Selatan. Konferensi ditutup Minggu (11/12), mundur dua hari dari jadwal. Salah satu hasilnya, negara-negara berkembang juga diwajibkan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), yang sebelumnya hanya diwajibkan bagi negara-negara maju.

Oleh Brigitta Isworo Laksmi

Ketika para kepala delegasi dari 195 negara harus disatukan dalam Konferensi Perubahan Iklim di bawah payung Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim, Maite Nkoana-Mashabane, presiden pertemuan itu, dan timnya pun bersiap. Konferensi di Durban, Afrika Selatan, sangatlah krusial.

Tahun 2012, tahap pertama Protokol Kyoto selesai. Harus ada keputusan: perlu rezim baru pasca-Protokol Kyoto atau tidak? Bagaimana tahap-tahap penjadwalannya? Keputusannya adalah keputusan politik dengan nuansa luas. Keputusannya harus diambil dalam suasana terbuka dan inklusif agar keputusan yang diambil memiliki kekuatan di antara semua anggota. Sementara, waktu amat terbatas. Maite pun bersiap.

Maite butuh sesuatu yang lebih dari sekadar keahlian diplomasi. Juga perlu sesuatu yang lebih dari sekadar penguasaan terhadap seluk-beluk Protokol Kyoto. Ia membutuhkan pegangan. Pegangan yang lebih mendasar, yang lebih universal. Sesuatu yang filosofis.

Ia tak perlu jauh-jauh mencari. Di bumi Afrika Selatan, ia menggali. Indaba adalah jawabannya. Padahal, selama satu tahun terakhir Maite telah melakukan konsultasi dan rapat dengan berbagai pihak. Mulai dari Bonn, Jerman, hingga Panama di kawasan Amerika Tengah.

Sejak awal konferensi dibuka, 28 November 2011, peserta konferensi dikenalkan dengan istilah indaba. Indaba adalah sebuah model pertemuan yang menjadi elemen penting bagi demokrasi partisipatif Afrika Selatan. Indaba datang dari bahasa Zulu yang merujuk pada ’pertemuan sekelompok manusia yang harus dijalankan dengan bijaksana’.

Persoalan yang dibahas dalam indaba adalah hal-hal yang bakal ada dampaknya terhadap semua peserta. Indaba bertujuan memecahkan persoalan tantangan kolektif yang sulit. Indaba bertujuan menumbuhkan pemikiran bersama atau ”kisah bersama” yang bisa menjadi milik semua peserta.

Keberhasilan indaba ditandai dengan pikiran peserta yang terbuka, didorong semangat untuk mencapai kebaikan bersama, dan mau mendengarkan satu sama lain untuk mencapai kompromi yang akan menguntungkan komunitas secara utuh.

Maka, mulailah digelar indaba demi indaba di International Convention Centre, Durban. Indaba hari Jumat (9/12) rencananya menjadi hari terakhir konferensi. Para menteri di ruangan yang tak memadai untuk sekitar 50 menteri, hingga berdesak-desakan, pun tak membuat para menteri hilang kesabaran. Semua menerima dan memaklumi ketidaknyamanan dan serba keterbatasan sang tuan rumah.

”Yang rapat sampai berimpit-impitan, ada yang berdiri berdesakan. Pokoknya tidak nyaman,” ungkap Ketua Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Rachmat Witoelar. Indaba terus berlangsung dan terakhir berlangsung Sabtu (10/12) sore di ruangan Sabi Star. Para menteri diminta memecah kebuntuan perundingan.

Entah apa yang terjadi. Mungkin sentuhan Raja Zulu Zhaka Zulu telah memainkan peran sehingga semua kondisi kritis terlewati dan konferensi pun berakhir dengan ”semua senang”—tampaknya semua pihak tidak keberatan dengan hasil konferensi, yakni Paket Durban dan Platform Durban.

Maite setiap kali berbicara di depan pers selalu mengucap kata ini, ”Ubuntu, saya adalah saya karena kamu adalah kamu” serta ”Indaba, sebuah semangat demokratis warisan tradisi bangsa Zulu dan semangat para pahlawan menjadi spirit pertemuan kita di sini….” Maite sukses.

Maite mengenang para pahlawan yang disebutnya satu demi satu: Mohandas Gandhi (Gandhi muda pernah tinggal di Afrika Selatan) dan Nelson Mandela. Dan, Maite pun meraih kemenangan bersama para pahlawan dan bersama Raja Zulu. Negara berkembang kini bersiap turut membayar ”utang ekologi”-nya.

Advertisements



    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: